Sabtu, 27 November 2010

TAK BOLEHKAH KAMI BERCITA-CITA ?


Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah. Aku adalah salah seorang guru yang  mendapat tugas memberi materi dalam acara MOS [Masa orientasi Sekolah] yang biasa diadakan pada hari pertama masuk sekolah.
Untuk hari pertama…biasaa… selalu diisi dengan perkenalan. Aku sebagai guru terlebih dahulu mengenalkan diriku pada murid-murid baru yang aku lihat masih begitu masih cerah dan imut wajahnya. Mereka anak –anak yang baru saja lulus dan lepas dari masa anak-anak di SD-nya. Aku melihat ada keceriaan dan kebahagiaan di mata mereka… maklum… sebagai anak-anak yang tinggal di desa kecamatan, SMP tempat aku mengajar termasuk sekolah menengah pertama yang banyak diminati anak-anak di desa kecamatan tersebut. Menjadi murid baru dengan prestasi bisa menyisihkan saingan-saingan mereka tentulah sangat menggembirakan, walaupun… yah… mereka bisa masuk hanya lewat saringan nilai-nilai dari ujian nasional… padahal.. banyak orang pendidikan tahu kalau hasil Ujian Nasional menjadi suatu hasil yang tidak dapat dipertanggung jawabkan akan sesuai prestasi anak yang sebenarnya. Anak-anak yang biasanya prestasinya bagus, justru lewat ujian nasional ini malah sering dikalahkan oleh anak-anak yang dalam keseharian kurang, tetapi aktif dalam melobi jawaban dari sana-sini. Lho bagaimana dengan pengawas yang merupakan para pendidik itu ? Yah… itulah masalahnya… para pendidik saat itu sedang dihadapkan pada pilihan yang sulit antara membiarkan murid-muridnya tinggal sekolah… atau meloloskan mereka…. Kalau menilik sulitnya perekonomian saat ini serta resiko beban stress yang bisa terjadi pada siswa, wajarlah kalau para guru itu mencoba menolong murid-muridnya agar bisa lulus dari ujian Nasional. Mengulang belajar lagi? Ah… kasihan sekali orang tua mereka harus kembali mengeluarkan biaya untuk tahun berikutnya sedangkan untuk makan sehari-hari saja sudah kerepotan….. apalagi banyak materi yang diajarkan di sekolah tidak terlalu relevan dengan kebutuhan sehari-hari dalam hidup bermasyarakat… yah… karena setelah terjun dalam dunia kerja dan masyarakat… banyak orang terpelajar tidak lagi dapat mengingat pelajaran-pelajaran waktu mereka sekolah…. Malahan tragisnya aku sering mendengar keluhan ironis dari para lulusan sekolah ketika menghadapi test ujian masuk Pegawai Negeri… banyak dari mereka yang sudah lama lulus dari sekolah dan belum juga lulus-lulus seleksi pegawai negeri… mengeluh… “waduh ya terang anak-anak yang baru lulus yang di terima, lha wong soal yang keluar banyak yang dari pelajaran sekolah. Kita-kita yang sudah lama lulus sekolah terang saja sudah lupa. Lha wong yang kita hadapi sudah berbeda… .” Lho…. Jadi apa gunanya pelajaran sekolah kalau begitu….  Kalau kenyataannya setelah lulus sekolah banyak materi yang mereka pelajari dari sekolah sudah terlupakan? Bukankah itu sama artinya kalau banyak materi pelajaran sekolah, tidak banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari ? waduh…. Ironis sekali kalau begitu… sebenarnya bukan berarti pelajaran sekolah tidak penting. Yang ironis adalah pemilihan materi yang tidak tepat. Hal-hal yang seharusnya lebih banyak dibutuhkan untuk diketahui, dalam kehidupan nyata disekitar kita, malah tidak diajarkan, sedangkan ilmu-ilmu yang terlalu jauh dari jangkauan,  malah  dijejalkan berlebihan pada anak didik ?  contoh kecil saja, dijejalkan pada anak didik pengetahuan muluk-muluk tentang rumus ini itu, peraturan nomer sekian-sekian, dan hapalan muacem-macem, sampai nggak muat itu rasanya otak. Akan tetapi lihat itu banyak anak terdidik yang kehilangan adab ketimurannya, tangannya juga ‘nglithis’, suka mencorat-coret atau merusak fasilitas-fasilitas umum, sopan santun dijalanpun banyak yang tidak paham. Kami seringkali dibuat jengkel oleh ulah anak-anak sekolah baik itu SLTP maupun SLTA yang tidak tahu sopan santun di jalan. Mereka memenuhi badan jalan dengan gaya seenaknya, sambil bergurau dorong-dorongan atau saling balap, tanpa memikirkan bahaya yang bisa mereka timbulkan, serta kenyataan bahwa jalan tersebut adalah jalan umun yang pihak lain juga layak untuk menggunakannya. Ada memang sekolah yang tertib, mungkin inisiatif gurunya yang terus mengingatkan. Lha kalau guru-guru di sekolah tertentu tidak tanggap tentang hal yang menyangkut kebutuhan langsung siswa dan masyarakat…pokoknya asal telah menyampaikan materi sesuai SKL (Standar Kompetensi Kelulusan), sudah merasa tuntas tugas mereka… akibatnya???
Lalu apakah tujuan dunia pendidikan yang sebenarnya ? untuk memperoleh hasil lahirnya generasi-generasi bangsa seperti harapan bersama ? Ataukah hanya dianggap sebagai sekedar formalitas belaka ? kalau hanya sekedar formalitas, lha apa yang dicari dari sekolah ? Ternyata…. Jawabnya hanya untuk mendapat ‘ijasah’ guna mencari lowongan pekerjaan… waduh…. Ternyata bukan ilmunya to yang di cari dari sekolah… cuma nilai ijasah untuk cari kerja…. Eh…. Tak heran banyak orang mengejar ijasah dan gelar setinggi-tingginya dengan aneka cara tanpa peduli menguasai atau tidak ilmunya, yang penting nilai, yang diabadikan dalam selembar kertas yang disebut ‘ijasah’… toh nilai yang tertera diatas ‘ijasah’ lebih penting untuk melamar pekerjaan atau meningkatkan jabatan, daripada kreatifitas dan kecakapan….  Astagfirullah….
Itulah.. bukan suatu yang mengherankan jika para guru itu kemudian mengambil langkah yang yah… sebenarnya cukup sepele… namun dampaknya akan sangat besar di kemudian hari bagi kemajuan bangsa dan negara. Negara yang sudah porak poranda karena tercemarnya sumber daya manusianya yang tak punya rasa segan untuk saling curang mencurangi… kini malah akan lebih parah dengan usaha para guru yang menunjukkan betapa ‘curang’ itu sekarang sangat ‘penting’… sepanjang itu dapat menolong kita keluar dari suatu masalah….
MasyaAllah… inilah yang terjadi di banyak sekolah pedesaan. Anak kota …apalagi mereka yang bersekolah di sekolah favorit… jelas tidak bisa distandarkan sama dengan anak-anak yang tinggal di daerah pedesaan atau bahkan daerah terpencil… karena semangat, dorongan bahkan mungkin faktor gizi mereka sangat berbeda.. belum lagi dalam hal sarana dan prasarana. Banyak muridku tidak punya televisi di rumah…. Kalau ingin nonton TV… mereka harus numpang ke tetangga yang lebih berada. Nah… apalagi media seperti… Koran… majalah serta penunjang buku lain di rumah untuk menambah wawasan serta semangat belajar, agar dapat  ‘mengejar ketertinggalan dari negara lain’… jelas hal yang tidak terbayang dari benak mereka, belum lagi kondisi ekonomi orang tua yang sulit… tentu sangat berpengaruh pula dalam konsentrasi belajar mereka, rasa pesimis pada masa depan , karena tidak adanya biaya untuk melanjutkan, telah membuat semangat mereka untuk belajar telah ‘kendor’ sejak awal… orang tuapun… tampaknya selain tidak punya banyak waktu untuk mengontrol pendidikan anak-anaknya, mereka juga sebagian besar beranggapan bahwa daripada melanjutkan sekolah, lebih baik anak-anak segera bekerja membantu meringankan beban mereka mencari makan…. aku bahkan mendapat informasi dari guru BK (Bimbingan Konseling) bahwa ada beberapa anak  yang tidak dapat melanjutkan, kemudian ada sebuah yayasan yang bersedia meneruskan sekolah mereka gratis ke SMU atau SMK, namun ternyata orang tuanya banyak yang menolak , dengan alasan anak-anaknya lebih baik langsung bekerja mencari uang membantu orang tua saja daripada harus melanjutkan sekolah. Pandangan seperti itu tentu dapat mempengaruhi semangat belajar anak di kelas…
Atas dasar inilah… kemudian hati nurani gurulah yang berbicara…. Bukan fakta hasil pendidikan… yang penting bagaimana mereka bisa lulus… dengan nilai-nilai yang di standarkan… entah dengan cara apa dan bagaimana…dapat ijasah… dapat melanjutkan sekolah… siapa tahu ijasahnya bisa untuk melamar pekerjaan… agar kehidupan mereka menjadi lebih baik dan sejahtera daripada orang tua-orang tua mereka…MasyaAllah…
“Sudah… sekarang perkenalan untuk saya cukup… sekarang ada yang mau bertanya ? “ aku menutup perkenalanku dengan membuka kesempatan pada siswa-siswi baru itu untuk bertanya… namun sayang.. anak-anak satupun tidak ada yang mengajukan pertanyaan padaku. Kondisi anak-anak yang pasif seperti itu bukan kali pertamanya aku alami, aku sudah mulai mengalaminya semenjak sekolah menerapkan ujian nasional sebagai dasar penyaringan ‘Penerimaan Murid  Baru’… dulu waktu sekolah menggunakan nilai asli ujian yang tidak dipakai untuk standar kelulusan… murid-murid di SMP ini masih lumayan lebih baik…. Karena mereka banyak yang aktif, lebih tanggap dan kreatif… namun semenjak sekolah menerima siswa siswi dari hasil penyaringan Ujian Nasional yang di standarkan nilainya… bukannya semakin meningkat lebih baik…. Namun… malah semakin menyedihkan… aku bahkan sempat menanyakan kepada wakil Kepala Sekolah kenapa sekolah tidak mengadakan saringan masuk lagi untuk murid-murid baru… karena kualitas SMP kami menjadi sangat merosot kalau menggunakan ukuran hasil Ujian Nasional… namun aku memperoleh jawaban bahwa tidak ada panduan untuk sekolah mengadakan saringan ujian masuk… yang ada hanya RSBI (Rintisan Sekolah Berstaraf Internasional) sedang sekolah kami baru sekolah SSN (Sekolah Berstandar Nasinal)… itu berarti kami mau tidak mau harus mengikuti aturan yang mengharuskan sekolah menyaring siswa siswi baru hanya dengan berpatokan pada Ujian Nasional…sebuah ujian yang… yah… sudah banyak orang tahu… ujian itu telah menghasilkan nilai-nilai yang banyak tercemari dan terekayasa…Astagfirulah….
“Ayo, bertanyalah… pasti ada yang ingin bertanya… tapi takut.. kalian tidak boleh takut bertanya ya ? kalian pernah mendengar pepatah yang mengatakan ‘malu bertanya sesat di jalan ‘kan ? makanya … kalau tidak ingin tersesat di jalan… ketinggalan… baik dalam hal apapun…. Harus berani bertanya…?” Aku memberi semangat pada mereka untuk berani unjuk diri… namun masih saja aku belum mendengar seorangpun dari mereka ingin bertanya. Pandangan mereka kosong tanpa ide kearahku…
“Ya sudah… kalau begitu… ini.. siapa… Siti ya ?” Aku mendekati dan menunjuk Siti, seorang gadis yang duduk di depan dengan ‘keplek’ tanda nama di dada kirinya. Siti memandangiku… kemudian tertunduk sambil tersenyum…
“Siti.. ada yang ingin kamu tanyakan tentang ibu….? Kamu ‘kan belum mengenal saya. nah… apakah perkenalan saya yang singkat tadi sudah cukup? Tidak ada lagi yang ingin kamu ketahui?” Siti kembali tersenyum sambil menggelengkan kepala… Siti tidak mau bertanya.. aku kemudian mencoba untuk menunjuk temannya yang lain… sama saja.. mereka juga tidak ada yang ingin bertanya… entah malu… tidak punya ide… atau… entahlah… aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka…
“Tadi ‘kan saya belum bercerita soal status . Apa ada yang ingin tahu status saya…? anak-anak saya…” aku mencoba memancing mereka dengan memberi contah pertanyaan… namun mereka tetap diam… yang ada bahkan beberapa anak laki-laki yang kemudian saling ‘clemong’, ngomong sendiri antar temannya… tapi kemudian ketika kuminta untuk menyampaikannya secara langsung pertanyaan yang tadi sedang diobrolkan sama temannya… mereka malah tak mau bersuara… aduh… sedih sekali kalau anak-anak calon pembangun negeri ini tidak berani unjuk diri atau kurang dari ‘rasa ingin tahu’….
“Ya sudah… kalau tidak ada yang bertanya pada saya… saya lanjutkan dengan kalian yang giliran satu persatu untuk memperkenalkan diri di depan.. kalau nanti di depan… suaranya harus keras ya… dan teman-teman yang lain… karena kalian semuanya sebagian besar teman baru… pasti kalian belum banyak tahu tentang teman-teman kalian. Nah kalau sama teman kalian sendiri…  harus berani bertanya…”
Aku panggil salah seorang anak yang duduk paling pojok kanan depan untuk mengenalkan diri terlebih dahulu didepan teman-temannya di depan kelas. Aku sudah berikan pada mereka garis besar apa saja yang perlu untuk mereka perkenalkan pada teman-temannya, seputar nama panggilan, alamat, jumlah saudara, asal sekolah dan lain sebagainya. Kalau mereka ingin menambahkan lagi cerita perkenalan tentang diri mereka itu lebih bagus lagi… namun, Diana, anak pertama yang maju kedepan tidak menambahkan cerita tentang dirinya, dia bahkan lupa apa saja yang mau disampaikannya setelah menyebut nama dan alamat… aku mencoba memandunya… suara Diana kuecil sekali hingga aku berkali-kali memintanya untuk mengeraskan suara… yah itulah yang sering terjadi… anak-anak perempuan bahkan laki-laki kalau maju ke depan tidak mau mengeraskan suara, sehingga tidak bisa diikuti temann-temannya bahkan aku gurunya yang duduk paling dekat dengannya. Dalam pelajaran bahasa Inggris yang aku pegang… ada pelajaran berbicara, aku selalu dibuat capek dengan meminta anak-anak untuk mengeraskan suaranya. Aku bahkan mengeluarkan peringatan keras bahwa aku akan mengulang dan mengulang terus kalau suaranya tidak di keraskan… sudah aku jelaskan juga, walau salah tapi keras, masih aku beri nilai karena keaktifannya…sebaliknya walau benar tapi tak kedengaran… maka aku nilai belum lulus , sehingga harus mengulang dan mengulang lagi… padahal… pendidikan kita telah menerapkan Metodhe pembelajaran CTL (Contextual Teaching ang Learning) , sebuah metodhe pembelajaran yang menekankan keaktifan dan kreatifitas siswa dalam belajar… namun anak-anak tampak tak terbiasa dengan keaktifan… kreatifitas… mereka tampak lebih senang dan menikmati duduk diam…menulis… dan mendengarkan ceramah…. Mencatat… dampaknya… kalau di suruh melakukan sesuatu…. Pada sulit dan enggan melakukannya…  Namun tampaknya juga semangat beberapa guru untuk membuat anak-anak aktif melakukan sesuatu… kreatif dalam berpikir dan bertindak… sesuai dengan methode CTL…. Menjadi kendor…. Karena… lha buat apa to anak-anak kok diajarkan bagaimana menghasilkan suatu karya, lha wong yang diakui ujung-ujungnya toh hanya sebatas mata pelajaran yang di standar nasionalkan, itupun hanya dalam bentuk yang penting mampu mengerjakan ujian tulis berbentuk pilihan ganda.. jadi yang dianggap paling hebat berstandar nasional dan internasional itu hanya sekedar mereka yang bisa memperoleh nilai tinggi dari hasil mengarsir bulatan-bulatan a, b, c atau d… sedangkan untuk mampu memperoleh nilai tinggi dari kegiatan mengarsir itu, ada aneka cara kreatif untuk merekayasa dan mencuranginya… aku bahkan sempat berkelakar dengan sesama rekan guru.. bahwa Ujian Nasional yang katanya akan mampu mendorong siswa dan guru lebih meningkatkan mutu pendidikan.. ternyata bukannya mutu pendidikan yang semakin tinggi… akan tetapi justru meningkatnya kreatifitas murid dan guru dalam mencari ide-ide ‘jempol’ untuk ‘mencurangi sebuah aturan yang dipaksakan, yaitu ‘Ujian Nasional’  …. He..he… hebat juga ‘hasil’ dari sebuah pendidikan di negeri ini…  
Untuk membangkitkan semangat guru agar mau merubah metodhe pembelajaran lebih aktif dan kreatif… sudah banyak program yang dilakukan, seperti workshop , diklat-diklat serta pelatihan untuk guru…. Bahkan janji penambahan gaji dua kali gaji pokok kalau lulus sertifikasi…. Namun nampaknya hal tersebut tidak banyak merubah cara-cara lama guru dalam mengajar serta mengembangkan kreatifitas dan keaktifan anak di kelas, apalagi pengawasan dari pemerintah sendiri pada penerapan dari hasil aneka macam diklat dan workshop dalam proses belajar mengajar yang tepat di sekolah amat sangat lemah, hampir  tidak ada (itu mungkin memang sudah tradisi pemerintah yang kurang efektif mengadakan pengawasan terhadap kinerja para pegawainya).
Aku tidak banyak tahu yang terjadi di sekolah-sekolah favorit… namun di sekolah pedesaan yang aku amati… guru banyak yang menjadi patah arang,  karena faktor siswa, sebagai salah satunya. Sebagian besar siswa enggan menyambut ilmu yang di berikan oleh guru. Ini wajar… karena dengan beberapa keterbatasan yang mereka miliki, mereka melihat ilmu-ilmu yang diajarkan pada mereka terlalu jauh dari jangkauan. Sekolah mengajarkan matematika seakan semua anak akan dijadikan ‘ahli matematika’, sekolah mengajarkan bahasa … seolah-olah semua anak harus menjadi ‘ahli bahasa’. Sekolah mengajarkan Pkn, dengan bahan ajar seakan semua anak akan jadi ‘ahli hukum’, mengajarkan seni seolah pada jadi ‘pakar seni’…. Padahal tidaklah mungkin semua anak akan jadi ahli dan ilmuwan… sekolah tidak memandang hal yang riil saja… apa sebenarnya ilmu yang pasti akan menyentuh kebutuhan semua siswa… tidaklah mungkin siswa harus dan diharuskan mempelajari segala macam ilmu secara mendalam dan menyeluruh seperti yang terjadi di sekolah tingkat SD dan SMP saat ini.  Semua anak memang membutuhkan ilmu-ilmu yang sekarang diajarkan …. Namun hanya dasar-dasar yang menyangkut kehidupan sehari-hari… tidaklah perlu semua orang harus mengetahui tingginya gunung semeru… itu pekerjaan ahli geografi … kalaupun toh setiap orang harus tahu tingginya gunung semeru… lalu apa relevansinya untuk  menghadapi hidup dan kehidupan ? yang terpenting orang tahu kalau gunung itu tinggi… kalau ada yang menganggap gunung itu rendah,… baru itu yang harus di luruskan… rendah kalau di banding mana ?  
Kasus anak-anak putus sekolah di SMP Pedesaan, seringkali terjadi. Apakah karena faktor orang tua yang tidak mampu membiayai anak-anaknya, sehingga harus berhenti sekolah ? Ternyata jawabnya ‘Tidak selalu!’. Banyak anak yang mogok tidak mau melanjutkan sekolahnya, walau baru kelas 7 (alias klas 1 SMP), atau bahkan sudah hampir lulus dari kelas 9 (alias kelas 3 SMP), adalah karena ‘anak yang tidak mau lagi sekolah !’ alias jenuh dengan ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah, sebagian lagi karena dinikahkan diusia dini oleh orang tuanya, atau factor-faktor lain. Fakta menunjukkan bahwa tidak sedikit dari mereka yang putus di jalan, adalah mereka-mereka yang orang tuanya tergolong lumayan mampu.
Alasan lain selain materi pelajaran yang diajarkan di sekolah terlalu jauh dari jangkauan mereka…. Mereka mengambil contoh teman , tetangga, kerabat, keluarga yang lulus dari SMP dan tidak melanjutkan, ternyata lulusan SMP tidak terlalu berbeda degan lulusan SD, mereka kembali ke masyarakat… tanpa membawa pembaharuan yang berarti bagi diri dan lingkungannya…
Selain faktor ilmu yang tidak mengena pada kebutuhan siswa, aku melihat ada faktor lain yang membuat siswa-siswa terutama anak laki laki sebagian besar sangat enggan belajar…
“Apa masalah kamu sehingga, selalu telat mengumpulkan tugas… itupun karena ditagih terus menerus… tidak mengerjakan PR… di kelas juga Cuma duduk saja tidak mau menulis dan mengerjakan… apa masalahnya…”  biasanya mereka hanya diam tersenyum-senyum..
“Apa ada masalah di rumah ?” hanya menggeleng tersenyum..
“Masalah dengan teman… atau jangan jangan masalah sama pacar…” Aku berusaha menggurauinya…  teman-temannya biasanya ikut menanggapinya dengan tertawa-tawa dan ikut-kutan ‘nggojlok’
“kalau punya masalah… disampaikan lho ya…bahaya kalau kamu pendam sendiri…  kamu bisa bilang wali kelas, guru, orang tua., teman.. bahkan guru BK.. apa coba yang membuatmu begitu enggan belajar… kenapa mengangkat tangan saja kok kelihatan beraaat sekali. Di rumah suka membantu orang tua tidak ? “
“Suka, bu!”
“Masak… kalau terbiasa membantu… berarti biasa rajin.. iya ‘kan ?”
“Membantu, bu… “
“Membantu apa misalnya…”
“ Sepulang sekolah saya mencari rumput sampai jam lima sore..”
Oh… aku baru mengerti ternyata dia tidak punya banyak waktu untuk bermain… di sekolah harus belajar… di rumah harus membantu ekonomi orang tua…sehingga waktu dalam kelas tidak dia gunakan untuk belajar… malah hanya duduk saja….
“Kenapa kamu kok kalau di kelas sering mengantuk dan tidak mengerjakan latihan ? “ tanyaku pada murid yang lain.
“Tidak apa-apa, bu.” Dia menjawab tidak sebenarnya karena takut…
“Apa di rumah kamu punya masalah… dengan teman… dengan pelajaran saya ? “
“Tidak bu…”
“Di rumah…. Apa kamu ikut membantu orang tua cari nafkah… hingga di sekolah seakan tidak punya tenaga lagi untuk belajar…”
“Ya… bu… saya membantu bapak mencetak batu bata…”
“Bapakmu membuat batu-bata ?”
“ya bu…. Buruh batu-bata…”
“Bilang sama bapak, ya kalau kamu perlu waktu untuk belajar…bahkan bermain. Minta bapak untuk mengurangi pekerjaan yang berat untuk kamu…”
Faktor ekonomi… sangat mempegaruhi semangat belajar anak-anak didikku… itulah yang membuatku tak tega memaksa mereka menjejali materi bahasa Inggris yang terlalu sulit bagi mereka… aku tidak terlalu teoritis sesuai dengan kurikulum atau apa yang ada di buku… aku hanya akan memilih materi yang menurutku sangat mudah untuk dipahami walau sedikit, yang penting ada yang ‘nyanthol’. Banyak materi yang kurasa tidak sesuai dengaan kemampuan mereka harus aku lewati… kalau materi terasa sulit bagi siswa, biasanya mereka akan ‘down’ duluan.. semangatnya malah semakin rendah… namun aku tidak memungkiri kenyataan bahwa diantara mereka selalu ada keajaiban yang muncul. Entah karena faktor genetik atau kesadaran dari keluarga akan pentingnya pendidikan atau faktor lain, diantara anak-anak yang semangat belajarnya rendah dan kemampuan daya ingatnyapun kurang, selalu ada anak-anak yang sangat brilian, sehingga jika ada perbedaan yang terlalu mencolok terjadi di kelasku… selalu aku anjurkan bagi mereka untuk banyak membaca dan mencari-cari materi dari buku lain sebagai tambahan wawasannya yang mungkin tidak bisa aku penuhi mengingat aku mengikuti kemampuan sebagian besar siswa…
Factor ketiga adalah minat dan bakat. Sebagian besar murid laki-laki kalau kutanya apa hobi mereka , mereka menjawab main sepak bola… , cita-citanya… ternyata banyak juga yang ingin jadi pemain sepak bola…jadi atlit, pembalab, bahkan ada yang menyebut ingin jadi sopir (karena bagi beberapa dari mereka sopir terlihat kuat dan gagah).. anak yang memiliki minat di bidang praktis seperti olahraga…. Seni…. Bukanlah tempat mereka untuk mempelajari hal-hal yang banyak berteori, apalagi harus mengutak-atik rumus matematia… fisika… keinginan mereka adalah berlatih dan menghasilkan sesuatu… sayang kalau bakat mereka kemudian banyak yang tergilas oleh keharusan duduk menyelesaikan teka-teki matematika… fisika.. dan aneka teori yang pasti menjemukan bagi mereka. Ini SANGAT TIDAK ADIL !!… Pemerintah telah memaksakan semua siswa SMP untuk menerima pilihan mata pelajaran yang sama bagi tiap anak. Padahal di usia mereka, seharusnya sudah mulai merintis karya sesuai minat dan bakat mereka. Namun malahan semua orang tahu kalau di SMP anak –anak semuanya diarahkan agar berminat dan berbakat di bidang MIPA. Ini jelas terlihat dari porsi jam pelajaran yang di berikan pada mata pelajaran tersebut lebih banyak dari mata pelajaran lain, juga syarat kelulusan di Ujian Nasional. Bukankah ini ‘sangat membahayakan’ sekali bagi perkembangan bangsa dan negara ini kedepan ?  coba bayangkan kalau benar-benar mereka yang berbakat di bidang seni,  olah raga, ketrampilan, semuanya tiba-tiba ahli di bidang MIPA,  apalagi kalau pintarnya hanya mengutak –atik rumus atau menyelesaikan soal pilihan ganda dan tidak ada seorangpun yang kemudian mau  bermain peran dalam film, memproduksi film yang berimajinasi tinggi, menggambar kartun, menggambar komik, melukis, mengukir, memahat, membatik, merias , memangkas rambut, menjahit, mendesain baju, menyanyi, menulis lagu, menjadi pemain bola, pemain tennis, dan sebagainya dan sebagainya…ah… gila…  pasti muka –muka orang-orang negeri ini pada ‘mengharukan’!, karena puyeng cari baju, sepatu… layak pakai, mau ‘leyeh-leyeh’ sambil mendengar musik, atau nonton film, atau nonton bola , eh… musik dan filmnya pada nggak ada yang nyaman di mata dan telinga. Pada kemana itu seniman, olahragawan dan mereka-mereka yang berbakat di bidang-bidang lain selain teknologi ? eh.. ternyata juga sudah pada jadi pemecah rumus-rumus… aduh… belum lagi angka pengangguran akan semakin menumpuk, bukan hanya meningkat..tapi menumpuk… karena tidaklah mungkin semua bekerja di bidang teknologi… padahal teknologi sendiri lahir dan bisa berjalan karena ada bidang lain… seperti… ada telepon…televisi..internet… karena ada bahasa dan seni…ada traktor… karena ada pertanian , ada alat-alat canggih untuk menata rambut dan lain-lain… karena ada ketrampilan… ada bola.. ada mobil sport.. karena ada olah raga..ah.. pokoknya teknologi canggih itu ada karena ada bidang-bidang yang di layani, kalau yang dilayani mati , karena nggak ada yang memperhatikan… ya jelas… semuanya akhirnya bisa… MATI…
Cobalah mari kita lihat diri kita masing-masing. Apabila anda mendapat anugerah Tuhan memiliki bakat di bidang olahraga, dan tidak memiliki minat di bidang ilmu matematika, IPA, kemudian dipaksa memiliki nilai nilai tinggi di bidang yang tidak anda minati, bagaimana perasaan anda ?  Walau anda memiliki ketertarikan pada beberapa ilmu lain selain olahraga, akan tetapi anda tentunya akan tersiksa jika diharuskan lebih memfokuskan belajar pada bidang yang anda tidak memiliki bakat padanya serta tidak anda minati. Kemudian bagi anda yang memiliki ketertarikan di bidang  MIPA atau ilmu Pasti. Apakah anda pasti tertarik jika di haruskan mempelajari seni lukis,  mengarang cerita narasi, menjahit baju…? Mungkin anda masih memiliki minat dan bakat di beberapa ilmu lain selain ilmu pasti, akan tetapi apakah sudah pasti semua ilmu yang di sodorkan untuk anda pelajari akan menarik minat anda untuk mempelajarinya ? Tentu tidak bukan ? setiap orang pastinya memiliki segala sesuatu yang di sukai dan tidak di sukai, termasuk ilmu. Hal tersebut sudah menjadi proses alam, dan manusia tidak berhak memaksa manusia yang lain untuk memiliki minat dan bakat yang sama dengan dirinya. Kita ibaratkan dalam selera makan saja. Setiap orang memiliki makanan favorit dan makanan yang tidak di sukainya. Apakah manusiawi jika anda memaksa semua orang juga menyukai makanan favorit anda ? jelas tidak adil, karena Tuhan telah menyediakan jenis makanan yang luar biasa beragam jenis dan beragam pula kelezatannya. Maka yang terjadi, tidaklah mungkin semua orang akan berselera atau mampu menghabiskan makanan yang menurut anda paling lezat tersebut. Beruntunglah bagi mereka yang memiliki kesukaan sama dengan anda. Akan tetapi berpikirkah anda pada mereka yang tidak menyukai makanan tersebut ? atau bahkan malah mual, jangankan memakannya, mencium baunya saja bisa muntah ?  dimana rasa toleransi anda pada hak asasi manusia untuk bebas menentukan pilihannya ?
Pandangan yang berkembang selama ini bahwa mereka yang pintar di bidang MIPA, sudah pasti akan mampu menguasai bidang lain adalah salah besar. Mereka juga memiliki kelemahan pada bidang-bidang tertentu. Adapun kalau selama ini mereka yang berbakat di bidang MIPA, juga mampu menguasai ilmu-ilmu tertentu yang lain. Hal tersebut dikarenakan, mereka adalah orang-orang yang biasanya selalu mengikuti alur sesuai aturan , menerima apa adanya. Sedangkan mereka-mereka yang berbakat di bidang seni, bahasa , ketrampilan, olahraga, biasanya mereka (terutama yang memiliki potensi tinggi ), akan memberontak apabila aturan tidaklah sesuai dengan minat dan keinginan hati nurani mereka. Aku dapat berikan contoh dari yang kuamati langsung. Aku pernah memiliki kerabat yang waktu kelas satu dua SD masih pintar, akan tetapi ketika kelas 5 SD, bakat seninya mulai muncul dominan, sehingga membuatnya berontak dengan tidak mau mempelajari ilmu-ilmu yang tidak ia minati , dan mulai sering bolos sekolah. Karena pemberontakannya yang tidak sesuai dengan aturan sekolah, dia tidak dinaikkan ke kelas 6. Keluarganya akhirnya menitipkannya ke rumah kami di desa, agar dapat meneruskan sekolah di sekolah yang di kepalai oleh Bapak.  Karena merasa di tolong apalagi tinggal di rumah kami, anak tersebut  kemudian menjadi sangat giat belajar, sehingga dia mampu meraih prestasi ranking atas. Alhamdulillah ketika kembali ke keluarganya selulus SD,  dia mampu masuk ke SMP favorit di kotanya. Anak tersebut, tidak naik kelas bukan karena bodoh. Dia memiliki kecerdasan di bidang seni, yang selama ini tidak pernah dianggap sebagai suatu bidang ilmu yang memiliki potensi tinggi oleh pendidikan kita, sehingga harus di kesampingkan. Adapun untuk mempelajari bidang lain, dia tidak berminat. Akan tetapi kalau dipaksakan, mereka tetap bisa, karena mereka yang dianugerahi potensi tinggi, sebenarnya mampu pula di bidang lain, walau mereka itu akan menjadi lebih ahli, kalau berkecimpung langsung sesuai bidang ilmu yang menjadi minat dan bakatnya. Alhasil ketika lulus SMA dan kuliah mengambil jurusan seni, seorang anak yang dulu pernah tidak naik karena berontak dengan sistem pendidikan yang tidak banyak berpihak pada minat dan bakatnya, mampu menunjukkan pada semua orang bahwa minat dan bakatnya adalah di dunia seni, yaitu seni lukis. Karena di kemudian hari, dia ternyata mampu memenangkan lomba-lomba lukis di tingkat nasional, bahkan kemudian mulai mencoba pasar internasional.  Kesalahan sistem pendidikan yang hanya menganak emaskan pelajaran MIPA, tentu sangat banyak merugikan, mereka-mereka yang memiliki minat dan bakat di bidang lain. Mereka-mereka yang justru berpotensi tinggi dalam bidang yang dipandang sebelah mata oleh pemerintah, akhirnya memilih jalan sendiri untuk memberontak sistem pendidikan seperti yang dilakukan oleh Iwan Fals, yang mengaku sering bolos waktu sekolah,bahkan almarhum putranya yang memilih berhenti sekolah,  Anang yang bandel yang sempat mendapat komentar dari gurunya ‘mau jadi apa kamu kelak?’, bahkan seorang gus Dur yang aku baca biografinya pernah tidak naik kelas waktu SD, gara-gara terlalu banyak membaca buku di luar pelajaran sekolah yang akhirnya membuatnya enggan menyentuh pelajaran sekolah.. Toh akhirnya ketika merasa malu dan mulai giat mempelajari pelajaran yang diberikan sekolahnya, Gus Dur juga  mampu menunjukkan beliau bisa menjadi salah satu dari yang terbaik. 
Nah… sudah sangat jelas, kalau setiap orang memiliki minat dan bakatnya masing-masing, dan mereka masing-masing berhak mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka secara resmi di sekolah, dengan bimbingan yang lebih profesional dari guru. Selama ini yang berbakat di bidang seni, olahrga, ketrampilan… menjadi ‘hebat di bidangnya’, karena mau ‘memberontak’, dari aturan sekolah.  Seharusnya mereka menjadi lebih hebat lagi kalau sekolah resmi bersedia mewadahi minat dan bakat mereka.
 Seorang yang memiliki bakat MIPA, hanya akan ahli bidang MIPA dan beberapa bidang lain yang di minati, tapi tidak akan menjadi ahli pada bidang yang tidak diminatinya. Seorang yang berbakat di bidang olahraga, akan menjadi ahli di bidangnya dan beberapa bidang tertentu, juga tidak akan ahli di bidang yang tidak diminatinya, seorang yang ahli seni atau Bahasa, bisa menjadi ahli pula dalam bidang lain, tapi tidak akan ahli dalam bidang yang tidak diminatinya…semuanya hanya akan mampu ahli di bidang tertentu, tidaklah mungkin ada seseorang yang ahli pada semua bidang… mustahil… Nah… kalau semua bidang hanya akan menjadi ‘hebat’ di tangan ‘ahlinya’, kenapa, mereka yang memiliki keahlian di bidang, seni, olah raga, ketrampilan… tidak mendapat kesempatan yang berarti oleh pengelola negeri ini untuk menjadi yang terbaik di bidangnya ? kenapa mereka diharuskan mendalami ilmu –ilmu yang bukan pilihan  dan kebutuhannya ? Wah..wah … sudah berapa banyak anak-anak bangsa ini yang di rugikan dengan sistem pendidikan semacam ini… sudah berapa banyak minat dan bakat yang menguap gara-gara titik berat pendidikan yang hanya memeluk mereka yang berbakat di bidang tertentu saja….ini sama dengan mengingkari ‘kebesaran Tuhan ‘ yang telah menganugerahi masing-masing anak dengan minat dan bakat yang berbeda, kekuatan yang berbeda baik fisik maupun otak, agar manusia saling tolong menolong dan menjadi bermanfaat satu sama lain… kalau akhirnya di haruskan sama… wah… wah…ironis… ironis sekali …
Sebagaimana layaknya ‘penonton bola’ yang menganggap ‘mengegoalkan’ bola itu mudah, aku berpendapat bahwa sebenarnya mudah kok menanggulangi pengangguran di negeri ini… kuncinya hanya pengakuan dan pengembangan aneka minat dan bakat sejak dini… sekolah bukan untuk ijasah,.. karena ijasah larinya selalu kearah melamar pekerjaan.. padahal… kalau semua diarahkan hanya menghargai ‘ijasah’ dan pada enggan membuka usaha. Lalu kemana mereka  semua akan memanfaatkan ‘ijasah’ untuk melamar pekerjaan ? Tidak mungkin ‘kan pemerintah yang telah menciptakan pendidikan negeri ini dengan hasil ‘nilai-nilai ijasah’ itu bersedia menampung semua lulusan untuk menjadi PNS ? Tidak mungkin ‘kan kita terus- menerus hanya menjadi ‘bawahan-bawahan’ pengusaha asing ? Masih banyak potensi dari sumberdaya manusia kita yang sebenarnya sangat berbakat, yang seharusnya bisa menjadi pimpinan-pimpinan perusahaan, aneka bidang usaha yang bisa dikembangkan melalui kreatifitas. Namun karena kesalahan cara mendidik serta permasalahan modal.. membuat banyak sumberdaya manusia kita ini akhirnya banyak terbengkalai…
Kita harus menyingkirkan dulu kemewahan yang berlebihan di negeri ini untuk mendidik dengan benar anak-anak kita , melatih, membina dan memodali usahanya. Negara ini harus memulai segalanya lebih awal lagi… lucu… kalau sudah bermewah-mewahan, bersolek dengan cantik dan berlenggak-lenggok memameran keelokan… sedangkan… pada tubuhnya masih banyak borok-borok yang harus di sembuhkan…
Yang keempat adalah factor gizi. Tampaknya tidak dapat dipungkiri kalau gizi sangat mempengaruhi semangat serta daya tangkap siswa-siswi dari keluarga kurang mampu. Kadang aku prihatin…. Kok bisa-bisanya negara gemah ripah loh jinawi, ‘ijo royo-royo’ ini sampai rakyatnya banyak yang kekurangan gizi. Ah… sangat tidak pantas untuk negara subur makmur ini kalau harga pangan saja sangat mahal, hingga malah ada yang terpaksa makan ‘nasi aking’. Lha… ada unsur gizi apa itu dalam ‘nasi aking’ ? Pengelolaan alam, sumber kekayaan alam dan sumber-sumber daya manusianya melalui sistem pendidikan  yang masih kurang tepat telah mengakibatkan ketidak adilan dan ketidak merataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat negeri ini. Benar memang kalau banyak orang desa memelihara sapi… namun sayang mereka hanya bisa memelihara… tapi sangat jarang menikmati daging sapi sendiri… apalagi susu sapi… seperti halnya seorang kuli bangunan… mereka dapat membantu membuat bangunan-bangunan yang megah…. Namun banyak diantara mereka yang tidak dapat menikmati hidup tinggal di sebuah bangunan yang layak…
“Sudah… sekarang siapa yang ingin tahu lebih banyak tentang Diana?” aku meminta anak-anak untuk mengajukan pertanyaan. Tapi mereka hanya diam tidak bereaksi…. Aku mencoba membiarkan mereka punya inisiatif sendiri untuk berani mencoba… berani bertanya… namun akhirnya…“Coba itu yang tengah… siapa namanya… “ aku menunjuk salah seorang anak laki laki yang duduk di bangku paling tengah untuk mengajukan pertanyaan… tapi dia Cuma diam…” ayo…masak tidak ingin bertanya…”dia tetap diam sambil tertunduk tersipu….
“Ayo… kamu bisa tanyakan apa hobimu… makanan kesukaan… nah… banyak yang bisa di tanyakan ?” Dia tetap tidak mau bertanya… hanya tersenyum senyum saja…. Apa sebenarnya yang salah dengan sistem pendidikan di negeri ini ? Aku kira sekolah butuh lebih banyak guru psikologi untuk terjun di kelas-kelas… karena banyak anak ternyata belum mampu mengatasi situasi yang mereka perlu harus lakukan…. Ah…. Namanya anak-anak… lha wong orang-orang ‘wis podho tuwo umure’ di negeri ini saja banyak yang kurang sehat kejiwaannya. Buktinya kalau pada bener-bener sehat, tentu mereka tidak akan melampiaskan penyelesaian masalah dengan cara melakukan penyimpangan, seperti berdusta, curang-menyurangi, suap menyuap, berzina, dzalim menzalimi, bahkan orang-orang kaya itu banyak yang masih merasa melaraat saja, hingga bawaannya ingin korupsii saja…rupanya banyak yang pendidikannya harus diulang dan diajari lagi ilmu kejiwaan…biar tenaang… kalau tenang ‘kan nggak pingin ‘polah’ macem-macem…
“Apa hobi kamu !” tiba tiba terdengar suara seorang anak-laki-laki nyeletuk mengajukan pertanyaan pada temannya…
“Bagus…” aku gembira mengetahui pancinganku sudah mulai mengena… sudah ada salah satu anak yang mulai berani mengajukan pertanyaan…
“Yang lainnya… ada pertanyaan…?” aku kembali memancing anak-anak untuk bertanya kembali setelah Diana menjawab pertanyaan murid pria tersebut… tampaknya hening kembali….
“Ayo… banyak ‘kan yang tadi ibu sudah contohkan ?”
“Apa makanan kesukaanmu…” Kali ini seorang anak perempuan yang kelihatnnya cukup jelas dan keras suaranya mulai bertanya….
“Cita-citaku jadi pemain sepak bola !” Hadi murid baru ke dua puluh  mengakhiri perkenalan dirinya dengan menyebutkan cita-citanya….
“Bagus… ibu senang karena dari tadi cita-cita kalian beragam… ada yang ingin jadi guru seni, ada yang ingin jadi pengusaha… bahkan Hadi ingin jadi pemain sepak bola…”
Namun kemudian aku jadi kaget ketika hampir semua anak laki-laki dari kelas ‘Panglima Sudirman’ ini ternyata ingin jadi pemain sepak bola, hanya seorang anak saja yang mengatakan ingin jadi tentara….
“Waduh… hebat… ternyata hampir semua anak laki-laki di kelas ini punya bakat dibidang olahraga…” itulah kemudian yang membuat aku kemudian miris… apalah artinya cita-cita mereka… kalau di sekolah mereka tidak punya banyak waktu untuk berlatih… bakat mereka di bidang olahraga… sedang olah raga hanya mendapat jatah waktu 2 jam pelajaran seminggu… di tambah ekstra kurikuler…..
 “Anak laki-laki di kelas ini hobinya apa saja…”
“Sepak bola bu..!” sebagian besar menjawab demikian…
“trus… cita-cita kalian apa… “
“Jadi pemain sepak bola Bu !” Kembali sebagian besar anak laki-laki menjawab hampir serempak…
Suatu kali aku pernah bertanya pada kelas 9, hal ini kutanyakan karena aku sering di buat kesal anak-anak yang malas belajar di kelas… atau malah ada yang hanya membuat suasana kelas gaduh, dan guru sulit menerangkan materi pada murid yang lain, tetapi ternyata kadang malah punya prestasi di bidang olah raga… seni… walau toh ada memang yang hanya membuat gaduh di kelas karena memang sudah memiliki pembawaan demikian.. atau mungkin karena pelampiasan dari masalah-masalah yang di hadapi dan tak mampu di selesaikannya..
“Kalau saya perhatikan mulai pertama saya menjadi guru…. Anak-anak yang memiliki hobi…. Dan bakat di bidang praktek , tidak menyukai pelajaran teori, ya… apa benar begitu ?”
“Benar bu…. Sangat jenuh…. Jenuh sekali…. !” seorang anak laki-laki yang pernah menjadi juara tingkat propinsi lomba gulat menjawab dengan mimik muka sangat serius kepadaku… seketika hatiku menjadi sangat haru… betapa tidak adilnya !Mereka yang memiliki bakat di bidang seni…. Olahraga… dan semacamnya….  seharusnya memiliki waktu lebih banyak untuk berlatih di lapangan guna menemukan trik-trik dan pengembangan metode baru dalam bermain… namun tidak bisa berbuat banyak… mereka terpaksa harus mengikuti aturan sebuah sistem pendidikan yang mengharuskan mereka lebih banyak duduk dan menulis di kelas…  Mereka bahkan hanya di cap jadi anak-anak nakal, mblarah, kendo, ndablek, trouble makers dan bahkan sering jadi bulan-bulanan sanksi tata tertib sekolah,  karena pemberontakan mereka hanyalah dengan cara melanggar aturan-aturan sekolah… 
Sekolah kita yang menyentuh seluruh anak bangsa sudah saatnya mempertimbangkan  dimulainya pengembangan dan penyaluran bakat anak mulai dini…penyaluran bakat dari SMA terasa ‘telat’, karena dari SMP anak sudah dapat merasakan minat dan bakat yang mereka ingin lebih tekuni. Selama ini sekolah hanya banyak berpihak pada mereka yang menyukai pelajaran teori… mereka yang berbakat praktek terabaikan…padahal umumnya dunia anak laki-laki adalah dunia praktek,  sedangkan dunia sekolah banyak menawarkan teori yang berjubel dan bertele-tele…..itukah yang membuat murid-muridku sebagian besar anak-laki-lakinya pada ‘loyo di kelas’? 
Seorang michael Jackson tidak akan menjadi seorang King of Pop yang sangat kreatif dalam menulis lagu dan menemukan gerak tari yang sangat sepadan dengan music yang mengiringi lagu-lagunya kalau ia tidak mengawali kariernya di bidang musik mulai usia 7 tahun… seorang Thomas Alfa Edison tidak akan mampu menemukan bola lampu dan proyektor film kalau ia tidak keluar dari sekolah di kelas 3 SD yang mengajarinya banyak teori yang tidak ia butuhkan sesuai minat, bakat dan rasa ingin tahunya… seorang Henry Ford tidak akan mampu mengembangkan bisnis perusahaan mobil raksasa dunia… kalau tidak memulai belajar mesin… ketika bekerja di perusahaan arloji di usia 12 tahun…
Suatu saat aku mencoba mendekati salah seorang muridku yang amat sangat tidak mau merespon pelajaran Bahsa Inggris yang aku ajarkan di kelasnya. Dia tidak nakal, tidak pernah meninggalkan kelas di jam pelajaran, dia tidak pernah membuat onar dengan berbicara sesama teman atau membuat gaduh di kelas. Dia hanya sangat malas mengerjakan latihan-latihan di kelas, tidak mau mencatat, sering ketinggalan mengumpulkan tugas.. kalau diingatkan dan ditanya hanya senyum-senyum saja.. ulangannyapun sering tidak di selesaikan..
“Tolong kamu berterus terang , apa sebenarnya masalahmu sehingga enggan belajar Bahasa Ingris. Apakah kamu tidak suka ? “ Dia hanya tersenyum “atau kamu punya masalah?” dia juga Cuma tersenyum. Setelah aku tanyakan berbagai kemungkinan dia hanya menjawabku dengan senyuman, akhirnya…
“Kamu pasti punya hobi ‘kan ? Apa kegiatan yang paling kamu sukai ?”
“Saya suka berternak, Bu….”
“Suka beternak… kamu sudah mencobanya di rumah ?”
“Sudah, bu!”
“Beternak apa kamu…”
“Bebek….”
“Lalu.. cita-citamu ?”
“Saya ingin jadi peternak yang sukses !”
Sebenarnya kelihatan sederhana cita-cita itu… namun bisa berdampak besar apabila ia mampu mewujudkan cita-cita tersebut. Memang benar cita-cita di usia sedini itu masih dapat berubah-ubah. Akan tetapi ini juga bisa jadi ide luar biasa yang bisa mulai di kembangkan sejak dini. Jika sebuah sektor di bidang peternakan dapat ditangani dan di kembangkan dengan baik, maka dari sektor ini saja akan banyak tenaga kerja yang terlibat di dalamnya , mulai pengelolaan., pengolahan… penyaluran… bahkan sampai penjualan… sebuah cita-cita yang terasa tidak terlalu hebat di telinga kita… tetapi telah menunjukkan pada kita… betapa walau dia kelihatan anak pemalas di kelas… ia telah memiliki visi dan misi untuk mandiri… tanpa harus menggantungkan pemerintah atau instansi lain untuk mendapatkan pekerjaan, nafkah untuk hidup sehari-hari. Hanya sayang… mungkin karena visi dan misinya ke depan tidak di temui di sekolah… membuatnya kemudian enggan mempelajari pelajaran lain..
Coba bayangkan kalau kita bina anak-anak kita, baik yang putus sekolah maupun yang mampu melanjutkan ke sekolah tinggi, menjadi peternak sapi perah misalnya.. selain mereka dapat memperoleh manfaat mandiri, rakyat kita juga akan dapat membeli susu dengan harga murah… masyarakat kita banyak yang kurang dalam hal gizi… menuntut anak bangsa ini dengan tuntutan yang berlebihan adalah ‘banyolan’ belaka. Kita tidak bisa mengukur kemampuan bangsa ini hanya dengan perwakilan segelintir dua gelintir orang yang memang telah memiliki potensi  dan kesejahteraan cukup tinggi di daerah-daerah perkotaan khususnya. Gizi harus kita perbaiki dulu, mulai lewat pendidikan serta usaha pembangunan desa… masyarakat kita ketinggalan dari negara lain… terutama negara maju… benar… karena kita terlalu lama di jajah… kekayaan alam kita yang kaya raya tidak dapat kita nikmati… akibatnya turun temurun masyarakat kita hanya makan seadanya.. semuanya telah dihisap oleh para penjajah, hanya mereka yang kebetulan mendapat jabatan saja yang mungkin dapat menikmati gizi lebih baik… dan sekarang kalau kita salah dalam memanfaatkan kekayaan alam dan salah dalam mendidik sumberdaya manusianya… kita tidak akan pernah bisa mendapatkan hasil sesuai yang kita harapkan bersama… bahkan dengan sistem yang tidak benar akan semakin mempurukkan kondisi bangsa dan negara ini. Negara kita ini sangat kaya lho….. bukan hanya dari segi kekayaan alam… masyarakat kitapun sangat piawai dalam seni, aneka kerajinan dan nenek moyang kita juga pandai meramu obat-obat mujarab, menyembuhkan penyakit dengan pijat, alternatif …. Sayang….. gara-gara yang di urusi Cuma teknologi, masyarakat akhirnya menganggap sektor lain tidak penting….  Kita harus mulai hidupkan seluruh bidang kemandirian yang ada dengan didukung potensi yang ada pada sumberdaya manusia dan alamnya.  Kita gali semuanya agar menjadi pegangan hidup setiap warga negara dan akan memberi dampak positif bagi seluruh rakyat. Yang berbakat teknologi diarahkan sejak dini agar banyak tumbuh produk ‘made in Indonesia’ , yang berbakat di bidang bahasa dan seni juga di gembleng sejak dini, agar marak ‘film bermutu, mendidik, berimajinasi dan berteknologi tinggi bertaraf internasional buatan Indonesia’, yang berbakat di bidang olahraga harus banyak berlatih sedini mungkin, agar ‘PSSI mampu menjadi juara dunia’… dan sebagainya, dan sebagainya.
Negara kita adalah negara agraris. Kalau mau di kembangkan dengan sangat baik di sekolah, sektor pertanian , baik itu petani sayur,  bahan makanan pokok, buah, tanaman obat, serta  kebutuhan yang lain…. Sektor ini bisa di jadikan sektor yang sangat bergengsi…. Pertanian tidak boleh dianggap remeh… kebutuhan utama kita berasal dari sektor ini…. namun akhir-akhir ini banyak orang enggan menjadi petani karena dianggap pekerjaan orang-orang yang tidak berpendidikan… orang tidak sekolahpun bisa jadi petani…. Di sinilah permasalahan yang membuat bahan pokok kebutuhan sehari-hari di negara kaya potensi alam ini malah menjadi sangat mahal…. Kalau semua orang diwajibkan pergi ke sekolah, akan tetapi profesi sebagai petani dianggap pekerjaan orang-orang tak berpendidikan… lha…. Suatu saat nanti…. Mana ada yang mau jadi petani…. Mana ada yang mau menanam padi…. Semuanya maunya bekerja di kantor… ongkang-ongkang duduk di kursi empuk … dapat setoran gaji berlimpah… seragam bersih dan wangi…. Yah… tapi pada kelaparan… atau pada mengandalkan impor bahan makanan…. Mungkin tak masalah bagi yang memegang duwit banyak… impor… dan terus impor… no problem… toh tetap bisa makan…. Bahkan makanan enak dari impor juga sangat lebih bervariasi daripada makanan kita sendiri yang dianggap ‘ndeso’, ketinggalan jaman dan tidak dikembangkan dengan baik…. Dengan kekayaan alam yang berlimpah dan orang-orangnya yang sebenarnya sangat kreatif dalam mengolah makanan lezat, sebenarnya bukan hanya Kentuchy atau Mc Donald, atau bisnis makanan-makanan asing saja yang bisa menjadi industri makanan raksasa yang mampu merambah pasar mancanegara…. Anak bangsa kita juga bisa kok menghasilkan kreatifitas dalam bidang kuliner yang seharusnya bisa menyaingi kepiawaian para peramu kuliner dari bangsa-bangsa lain . Hanya saja asal.. di dukung oleh dunia pendidikan yang mengisyaratkan pentingnya pengembangan diri dari berbagai bidang… bukan hanya ‘teknologi’. Lihat itu bangsa-bangsa yang sudah maju, mereka menghargai seluruh bidang ilmu, mereka mengapresiasi kreatifitas di bidang apa saja, baik itu fashion, seni, olahraga…yah pokoknya semua bidang yang bermanfaat untuk orang banyak adalah … bahkan di jepang banyak lomba memasak, serta aneka kreatifitas, salah satunya termasuk lomba ketrampilan para tukang kayu… eh… kok di negara kita, kerajinan tangan malah dikesankan ilmu yang rendah. Yang dianggap hebat, ironisnya malah yang hanya pintar bicara, mengutak-atik rumus, tapi tangannya belum tentu mampu menghasilkan karya… pantas… kreatifitasnya pada macet… Apa dikira sepele itu pekerjaan yang menyangkut ketrampilan ? pandangan salah bangsa kita harus segera di luruskan, mereka hanya menganggap orang berhasil hanyalah orang yang mampu menggunakan ijasahnya untuk masuk kerja, seperti pegawai negeri, pejabat, atau pegawai-pegawai perusahaan yang berseragam dan berdasi. Padahal mereka yang mampu mandiri dengan kreatifitasnya sendiri, tidak kalah hebatnya. Tidak gampang membangun suatu usaha dengan kreatifitas sendiri. Tidak semua orang mampu membuat dan mencipta karya dari ketrampilan tangan. Suatu karya yang lahir dari ketramplan tangan, bukan hanya mengandalkan ketekunan, ketelatenan dan kelincahan tangan, akan tetapi juga membutuhkan kecerdasan otak. Tidaklah mungkin seseorang menghasilkan suatu karya bernilai tinggi kalau otaknya tidak berpotensi tinggi. Contoh kecil saja membuat ketupat. Tidak semua orang yang diajar membuat ketupat mampu dan tlaten membuatnya. Apakah membuat ketupat tidak di perlukan kecerdasan ? lho… kalau tidak memakai otak… bagaimana cara mengingat langkah-langkah rumit menganyamnya, apalagi yang mampu menciptakan cara membuat ketupat serta aneka model ketupat yang lebih variatif. Sudah jelas ‘kan mereka bukan orang bodoh atau sepele hasil karyanya ?
Masing-masing sekolah harus mulai diarahkan untuk segera membidik semua sektor yang dapat di kembangkan dalam masyarakat…. Ini mengenai fakta bukan hayalan… ilmu-ilmu yang dikembangkan dan dipelajari anak-anak di sekolah harus mulai mengarah pada fakta yang akan terjadi dan dihadapi dalam masyarakat. Jangan hanya berupa teori-teori , hasil hapalan dan otak-atik rumus saja. Karya nyata harus segera di wujudkan dan di suguhkan hasilnya pada masyarakat, bahwa inilah dunia pendidikan kita. Untuk itu masing-masing sekolah, jangan lagi hanya ditagih hasil RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.) nya saja, yang dapat di rekayasa dan di manipulasi oleh para guru. Akan tetapi pemerintah harus mulai meminta tiap sekolah mampu menunjukkan hasil dan karya nyata yang telah mampu di buat dan di hasilkan oleh anak-anak didiknya dalam sumbangannya pada kehidupan bermasyarakat. Hasil pendidikan yang hanya sebatas ‘nilai’, ‘nilai’ dan ‘nilai’… telah menimbulkan banyak manipulasi, rekayasa dan kepasifan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara… dipastiokan akan dihadapi oleh mereka dalam kehidupan nyata. ang hanya berdasar imajinasi anak...   
“Bagus… ternyata walaupun ibu lihat sangat ‘males-malesan’ belajar bahasa Inggris… ternyata kamu masih punya kegiatan yang positif… teruskan hobi kamu… dan cari buku-buku yang bisa memberi kamu tambahan ilmu untuk beternak… tapi… karena di sekolah kamu di beri waktu belajar bahasa Inggris… Bahasa inggrinya juga harus di pelajari…banyak ilmu pengetahuan di tulis dalam buku berbahasa Inggris…siapa tahu nanti ada gunanya untuk kamu…“
Pernah aku memiliki seorang murid lain yang cuma diam saja di kelas… tidak membuat onar.. tapi juga hanya diam saja… selain sangat lemah penguasaanya dalam materi… hal yang membuatku sering jengkel.. adalah ulahnya yang sering melarikan diri saat jam pelajaran bahasa inggris belangsung… hal itu bukan terjadi pada pelajaranku saja, akan tetapi mata pelajaran-mata pelajaran yang lain, sehingga ia jadi bulan-bulanan sanksi tata tertib.. hukuman-hukuman karena pelanggaran yang di buatnya telah berkali-kali ia jalani, dan cap ‘anak nakal’ telah menempel padanya… namun… berkat tangan dingin seorang guru Olah Raga… dia berhasil menjadi juara pertama gulat di tingkat propinsi.. dan dia terus.. meraih kejuaraan… hal itulah yang kemudian menyadarkanku bahwa ‘dia memiliki pilihan ilmu yang ingin dipelajarinya sendiri’…
‘Andi’ , si juara gulat, begitu saja kita sebut namanya, masih agak beruntung… walau dia telah banyak mendapat skor pelanggaran, dia masih bisa terus naik kelas dan lulus sekolah dengan lancar, karena waktu itu belum di tegakkan ketentuan yang lebih keras untuk memberi sanksi mereka yang membuat pelanggaran dengan tidak meloloskan mereka ke kelas yang lebih tinggi..
Aku pernah menjadi wali kelas seorang anak yang tidak terlalu pandai, tapi sangat aktif mengikuti pelajaranku. Selain itu dia juga aktif dalam kegiatan-kegiatan di kelas, sehingga kami pilih dia menjadi ketua kelas 7 waktu itu. Dia memang agak nakal, tapi aku suka dengan ringan tangannya yang suka membantu dan mudah jika aku minta untuk membuat program di kelas… selain itu dia juga sering punya ide untuk membenahi kelasnya. Aku tidak melihat anak itu terlalu bermasalah, bahkan aku salut dengan jiwa kepemimpinannya. Ketika ada lomba gerak jalan, dia sangat antusias memimpin teman-temannya. Dia sangat rajin berlatih, sampai-sampai kelompok yang dipimpinnya berhasil keluar sebagai juara pertama lomba gerak jalan antar kelas mulai kelas 7 sampai kelas 9.
Akan tetapi ketika ia naik ke kelas  8, ternyata banyak guru yang mulai mengeluhkan tingkah lakunya… dia mulai banyak meninggalkan kelas di saat jam pelajaran. Orang tuanya telah berkali-kali di panggil oleh pihak sekolah, namun dia tetap saja tidak merubah kebiasaannya yang sering meninggalkan kelas di saat jam pelajaran berlangsung. Alhasil… ketika kenaikan kelas di rapatkan… dia di putuskan untuk tidak naik kelas.. akan tetapi sekolah akan memberi tolerir di naikkan… dengan syarat , dia harus mencari sekolah lain, atau tetap di sekolah kami dengan konsekuensi tidak naik kelas…  sebagai seorang guru yang pernah mengenalnya dengan baik, sekaligus pernah merasa senang dengan hasil kepemiminannya sebagai ketua kelas, aku ikut sedih mendengarnya. Dulu sewaktu mau kenaikan kelas ke kelas 8, aku bahkan sempat memberinya hadiah, dan kunobatkan saat itu sebagai ketua kelas yang ‘ sangat kooperatif’. Ternyata di kelas 8 dianggap banyak membuat pelanggaran dan harus tinggal kelas. Apalagi aku tahu bapaknya hanyalah seorang tukang becak… apa boleh buat… kedisiplinan harus ditegakkan… kalau saja kedisiplinan itu masalah berlatih di lapangan… aku yakin dia sangat disiplin… karena dia sangat antusias dalam bidang olahraga… dia juga termasuk team sekolah yang memperkuat regu sepak bola…walau aku sempat sedih.. aku masih terhibur dengan jiwa yang aku sebut tadi ‘jiwa kepemimpinan’… mentalnya sangat siap menghadapi sesuatu yang buruk…nyatanya dia tidak memilih pindah ke sekolah lain agar bisa naik kelas… tapi dia tetap bertahan di sekolah kami, walau harus jadi satu-satunya anak  tinggal kelas yang masih bertahan bersekolah di sekolah kami.
Mereka hanyalah beberapa contoh anak-anak yang membuat masalah di kelas..namun ternyata memiliki keahlian dan kemampuan yang sebenarnya sangat menonjol di bidang lain, yang tidak terlalu diperhatikan oleh dunia pendidikan kita. Masih banyak anak lain yang kerjanya hanya duduk di kelas… kalau guru tidak keliling, bisa-bisa dua jam pelajaran, hanya di gunakan untuk duduk saja, ada yang ngobrol, ada yang diam sambil melamun…. Bahkan kalau tidak di kontrol… bukunyapun masih ada dalam tas… kalau di tegur di suruh mengeluarkan… baru di keluarkan…lalu.. sebenarnya ini salah siapa.. ? anaknyakah ? atau sistem pendidikannya yang tidak berpihak pada kebutuhan anak-anak didiknya ?
Yah… anak-anak bangsaku…teruslah berjuang… semoga para penentu nasib bangsa ini segera sadar… bahwa masih banyak anak bangsanya yang berada di bawah garis kemiskinan dan mendamba bimbingan, tuntunan serta bantuan untuk bisa hidup mandiri…serta mampu menghadapi masalah hidup dan kehidupan menjadi lebih baik…semoga beliau-beliau juga menyadari bahwa setiap anak telah dianugerahi minat dan bakat yang beragam dan berbeda oleh Tuhan Yang Maha Esa atas dasar keadilan bagi umat manusia serta alam semesta, yang harus diakui dan dikembangkan semenjak dini…  
Akan tetapi apakah pendidikan negeri ini belum berhasil mendidik anak-anak bangsanya ? bukankah banyak orang-orang cerdas lahir dimana-mana ? bukankah anak-anak kita juga sering menjuarai lomba olimpiade MIPA di luar negeri ? Benar… memang negara ini telah berhasil mendidik anak-anak bangsanya untuk menjadi orang-orang cerdas. Buktinya selain sering menang di Olimpiade internasional , lihatlah di televisi-televisi, mereka sudah semakin kritis dan sangat dapat diterima oleh akal sehat apabila berpendapat… mereka sudah benar-benar sangat cerdas… hebat…jeli…kritis…tapi sayang… kecerdasan dan kehebatan itu hanyalah sebatas kecerdasan berpikir, bukan kecerdasan dalam menahan hawa nafsu serta memanfaatkan tanggannya trampil untuk melakukan serta menghasilkan sesuatu. Ini bukti bahwa keberhasilan pendidikan di negeri ini baru sebatas kecerdasan ‘otak’ dan belum sampai pada kecerdasan skill dan kecerdasan emosional.
Jangan biarkan negara ini menjadi negeri Spongebob. Spongebob si tokoh utama adalah seseorang yang sangat baik hati serta memiliki kepedulian yang tinggi pada sesama, akan tetapi sayang dia bodoh.  Squidward adalah sosok orang cerdas, namun sayang hatinya di penuhi kedengkian serta niat-niat dan ambisi buruk. Dan Tuan Krab yang cerdas dan kreatif adalah sosok orang pintar dan sukses yang rakus pada harta, sehingga hidupnya hanya memikirkan uang, uang dan uang , kalau perlu dihalalkannya segala cara , asalkan itu demi uang…
Sudah saatnya semua pihak menyingsingkan baju untuk tidak membiarkan system pendidikan ini menghancurkan anak-anak bangsanya sendiri. System pendidikan yang hanya membekali anak-anak bangsanya dengan kecerdasan otak yang hanya diukur dengan nilai-nilai telah membuat anak-anak bangsa hanya menjadi generasi yang menggantungkan diri pada instansi pemerintah dan kreatifitas-kreatifitas pihak asing yang membuka usaha dan peluang kerja bagi lulusan-lulusan sekolah.
Aku ingin mendengar orang tua-orang tua dari keluarga kurang mampu memberi dorongan semangat pada anak-anaknya untuk bersungguh-sunguh bersekolah, karena yang sering sampai padaku selama ini orang tua-orang tua banyak yang tidak ingin anak-anaknya meneruskan sekolah dengan alasan, “Untuk apa meneruskan sekolah, toh belum tentu jadi pegawai, kita tidak punya biaya untuk ‘nyogrok’ (nyuap)”, “untuk apa neruskan sekolah, paling-paling juga nganggur, lebih baik segera bekerja apa saja , yang penting dapat uang, sekolah hanya menghabisan uang..” dan sebagainya-sebagainya, yang menunjukkan kepesimisan banyak keluarga tidak mampu yang melihat hasil pendidikan sangat minim, serta hanya sekedar memakai tolok ukur ‘ijasah’. Aku ingin segera mendengar ucapan mereka pada anak-anaknya berubah menjadi dorongan penuh optimisme seperti, “ Belajar yang giat nak… lihat… mereka-mereka yang bersekolah… ada yang jadi pegawai negeri, pejabat… tapi banyak juga yang sukses menjadi pengusaha, karena mendapat bantuan dana dan beasiswa usaha dari pemerintah…”, “giatlah belajar di sekolah nak, si anu kreatif membuat ‘ini’ karena di ajar di sekolah, dapat melakukan ‘itu’ untuk sukses mandiri, juga hasil dari sekolah… “  . “Lihat…itu mereka yang pada sekolah, menjadi anak-anak yang santun , taat beribadah, bermoral mulia… sangat membuat bangga dan menyenangkan hati orang tua dan orang-orang di sekitarnya…”
Hal tersebut tentunya juga membutuhkan partisipasi dari mereka-mereka yang telah sukses di bidangnya masing-masing, untuk ikut andil menularkan ilmu serta keberhasilan mereka pada anak-anak generasi bangsa ini… Anak-anak kita membutuhkan pembinaan rohani, kursus-kursus ketrampilan dan pengembangan bakat yang dapat meningkatkan keaktifan, kreatifitas, pembentukan sikap perilaku yang lebih baik dan benar, bukan hanya belajar atau kursus latihan soal-soal pilihan ganda saja….
Akan tetapi…. Bagaimana dengan murid-muridku… dan murid-murid di sekolah-sekolah yang sebagian besar datang dari keluarga kurang mampu ? Ikut kursus? Bukankah akan mahal biayanya ? Lha wong belajar di sekolah pamerintah yang gratis saja ada yang masih merasa berat… bahkan sampai ada anak yang pergi ke sekolah tanpa uang saku… masyaAllah… adakah yang bisa menolong anak-anak negeri ini agar dapat hidup lebih baik ???


MEMBANGUN ISTANA DI SURGA




       Pak Joni dan istrinya adalah pasangan yang klop. Mereka memiliki hobi yang identik sama. Dengan kekayaan yang melimpah dari Allah, mereka seperti menjadi orang-orang yang tak tahu arah . pak Joni punya hobi koleksi mobil mewah… sedangkan bu Joni punya hobi koleksi barang-barang serta perhiasan mewah. Hobi mereka yang klop ini telah membuahkan ide bagi mereka berdua untuk membangun sebuah rumah khusus untuk showroom barang-barang mewah yang mereka koleksi, karena untuk di tempatkan dalam rumah mereka… tentu tidak lagi cukup. Lha wong rumah mereka sendiri sudah seperti gudang mewah penyimpan barang. Jadi… rumah khusus untuk showroom itu… sudah otomatis dan harga mati harus dibangun. Lalu apa sebenarnya tujuan showroom itu ? eh… ternyata hanya untuk memuaskan nafsu serakah mereka… sekaligus ajang memupuk sifat riya’ dengan berbangga-bangga diri memamerkan kekayaan mereka pada orang lain. Astagfirullah… pak Joni dan istri sedang mendapat ujian besar dari Allah… tapi mereka sama sekali tidak menyadarinya… mereka bahkan mengira Allah sedang memanjakan mereka dengan guyuran-guyuran harta yang melimpah yang tentunya kalau bukan karena sayang Allah yang besar pada mereka… lalu apalagi ?
‘Boros adalah teman setan’, ‘Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas’, ‘ makan minumlah kamu, tapi jangan berlebih-lebihan’. Nah… kalau makan dan minum saja tidak boleh berlebih-lebihan, apalagi dalam hal-hal yang lain ?  pak Joni dan istrinya tidak mau tahu, atau memang tidak tahu tentang aturan Tuhan itu. Padahal… pak Joni juga bukan orang yang jauh dari agama. Pak Joni sangat aktif ikut pengajian. Pak Joni bahkan punya guru ngaji yang khusus datang ke rumahnya untuk ngajari dia ,istri-istrinya dan anak-anaknya ngaji, walau sayangnya hanya pelajaran membaca huruf-huruf Al Qur’an. Pak Joni dan keluarganya tidak pernah meminta si guru ngaji untuk mengajari dan menjelaskan isi ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya.  Mungkin pak Joni juga tidak pernah menanyakan perihal… kemana sebaiknya hartanya yang berlimpahan itu harus di belanjakan.. dan sang ustad.. entah karena segan atau takut di pecat kalau  harus mengeluarkan kata-kata mengingatkan pak Joni atas hobinya yang tidak islami itu, terpaksa harus berdiam diri melihat hobi pak Joni yang melampaui batas itu. Padahal Allah berfirman ‘ Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Begitulah… pak Joni dan istrinya merasa uang yang mereka peroleh adalah uang halal, sehingga mereka merasa tidak bersalah sama sekali dengan menghambur-hamburkan uang yang berkelebihan yang mereka miliki. Dalam benak mereka tak pernah sedikitpun terlintas pemikiran, bahwa nun jaun di sana, atau mungkin di sekitar mereka yang tak mereka pernah toleh, ada banyak nyawa yang tengah merintih pada Tuhan karena tidak mampu membuat anak-anak mereka kenyang tiap hari, tak mampu mendapat pendidikan yang layak, bahkan banyak anak tak berdosa telah kehilangan masa ceria mereka, karena harus ikut menanggung beban berat ekonomi keluarga. Pak Joni dan istri tidak pernah merasa bahwa banyak jiwa tengah menangis sedih, karena harus sakit, atau tua renta , terpaksa harus tetap bekerja berat, atau tidak mampu lagi bekerja, menempati rumah-rumah yang tidak layak di huni, serta masih banyak lagi mereka-mereka yang jauh dari keberuntungan pak Joni dan keluarga, mengharap sekedar rejeki hanya untuk sesuap dua suap nasi… apakah Pak Joni dan istri tidak mengetahui hal ini , atau tahu tapi tak tersentuh hati dan perasaannya untuk sedikit memiliki kepedulian pada mereka ? Adalah benar, kalau uang yang mereka gunakan adalah uang halal, namun apabila mereka mengaku sebagai bagian dari orang-orang yang beriman… maka tidak ada alasan untuk membuat susah hati Tuhan, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas….
Namun pada suatu hari… entah ada angin atau hujan dari mana, sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi pada pak Joni, hingga dia pulang dalam keadaan tergesa-gesa dan dengan wajah penuh semangat menemui istrinya.
“Ada apa, Pak ? Kok kelihatannya ada yang sangat penting ? “ Tanya istri pak Joni dengan sangat penasaran.
“Bu , aku baru dari pengajian… dan aku merasa telah mendapat hidayah dari Allah !” pak Joni menerangkan dengan wajah berbinar penuh suka cita…
“Hidayah dari Allah ? Apa itu Pak? “ Sambut istri pak Joni dengan wajah ikut penuh suka cita… membayangkan hidayah itu tentu ada hubungannya dengan tambahan kekayaan mereka yang tentunya akan semakin melimpah….
“Ya…ya.. aku tadi baru dari pengajian… dan aku mendengar cerita dari pak ustad bahwa suatu saat nanti di akherat alkisah seseorang sedang menggelandang . Sang malaikat sangat marah pada laki-laki tersebut dan melemparnya ke neraka seraya mengucap,  “mengapa di dunia kau berlimpahan harta.. dan sekarang kau biarkkan kau dan keluargamu menggelandang di neraka.. ini akibat ulahmu yang ketika di dunia kikir, tidak mau membagi rejeki berlimpahan yang di anugerahkan Allah padamu kepada orang-orang yang membutuhkan. Rasakan inilah kecintaanmu pada harta yang berlebihan semasa hidup di muka bumi.’’ Mendengar kisah itu aku jadi sangat ketakutan, bu! Allah telah melimpahkan harta yang berlebihana pada kita… aku takut ini merupakan sebuah ujian dari Allah.. bagaimana kita mengemban amanah berupa harta yang berlebihan ini sebagaimana mestinya. Aku takut di akherat nanti aku tergolong seperti orang yang ada dalam kisah itu. Aku tidak ingin harta berlimpah yang kita miliki sekarang ini justru menjadi sesuatu yang akhirnya akan mencelakakan kita di alam abadi nanti..”
“Ibu tidak mengerti dengan maksud bapak. Mengapa mesti takut? Bukankah kita juga bukan termasuk orang-orang yang kikir? Kita sudah melaksanankan kewajiban dalam Islam berupa sedekah, zakat, Qur’ban, kita bahkan sama-sama sudah ber-haji… semuanya telah kita lakukan sesusai tuntunan Islam.. ada apa lagi bapak begitu risau?”
“Ya… aku masih takut ada rejeki tidak halal ikut kita nikmati dalam kehidupan kita..”
“Ah.. Pak… kalau segala macam sedekah yang dianjurkan sudah kita jalankan… ya sudah… beres… kita berarti tidak menyalahi aturan agama… kenapa mesti membayangkan menjadi gelandangan di neraka?’
“Ya sudah bu… alasan ibu benar.. tapi, kemudian ada sesuatu yang membuatku masih berpikir. Allah berfirman’ tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan’, ‘ pemboros adalah teman setan’, kalau dalam hadist nabi, kita dilarang melakukan sesuatu tanpa ada manfaatnya untuk kita…”
“Maksud bapak apa? Saya tidak mengerti ini pak.. hidayah apa sih sebenarnya yang sedang bapak rasakan.. langsung saja bapak jelaskan…”
“Begini, bu.. aku berencana membangun istana di surga…” Bu Joni kontan agak terhenyak mendengar rencana pak Joni ini. bu Joni ynag kerjanya hanya mengunjungi salon atau tempat-tampat mewah untuk sekedar menikmati kemewahan bersama-sama teman-teman sesama peminat kemewahan, otomatis awam dengan istilah ‘membangun istana di surga’
“Membangun istana di surga?” Bu Joni agak ironi mengulang kalimat itu…
“Ya… ‘dengan sedekah, Allah akan membangunkan seseorang istana di surga. Semakin banyak sedekah yang ia keluarkan… semakin indah istana yang Allah bangunkan untuknya…”
“Lalu maksud bapak ?” Bu Joni agak kaget dan setengah tidak mengerti dengan rencana pak Joni untuk membangun istana di surga itu…
“Harta yang Allah anugerahkan pada kita sangat berlimpah bu.. dan kita telah gunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti, koleksi pakaian, barang-barang mewah, perhiasan… bahkan mobil… kita telah melakukan sesuatu yang sama sekali tidak bermanfaat, tapi hanya menuruti kesenangan semata… yang hanya akan menimbulkan kemudharatan serta sifat riya’ belaka. Padahal kalau ibu lihat di luar sana… banyak sekali orang-orang yang tidak punya tempat tinggal.. bahkan untuk makan saja sulit… kenapa kita yang mendapat kelebihan harta hanya menggunakannya untuk kesenangan yang sama sekali tidak ada artinya… untuk apa kita tumpuk harta mewah itu… kalau hamba-hamba Allah yang lain sedang hidup serba susah di luar sana. Dimana rasa kasih sayang serta perikemanusiaan kita pada sesama? ”
“Pak… bapak kok aneh… orang-orang itu bukan tanggung jawab kita, pak. ‘Kan sudah ada pemerintah yang ngurusi mereka, kenapa kita yang jadi repot? Bukankah dalam undang –undang dasar di sebutkan kalau’ fakir miskin dan anak-anak terlantar di pelihara oleh negara’. lhaa kalau mereka masih pada miskin dan terlantar.. lha bagaimana lho dengan pemerintah. Bisa apa enggak ngurusi negara titipan para pendirinya?”
“Benar bu.. itu tugas pemerintah.. tapi ini juga kewajiban orang muslim untuk membagi harta yang di karuniakan Allah, kepada hambanya secara adil… “
“Maksud bapak bagaimana ?” Bu Joni sudah sangat kuatir dengan rencana pak Joni yang sudah mulai dapat di tebaknya…
‘Bapak akan jual semua mobil koleksi kita, hanya kita sisakan satu saja… ya dua tidak apa-apa asalkan kita menyisakannya karena kita benar-benar karena sangat membutuhkan.. bukannya untuk riya’ atau ‘pamer kekayaan’, atau ‘sekedar memuaskan nafsu keduawian kita’.. .”
“ Pak.. pak… bapak ini masih waras ‘kan.. kenapa punya ide gila seperti itu… itu mobil.. mobil kita sendiri, pak.. hasil kerja keras kita… kenapa harus orang lain yang menikmati , pak…”
 “Inilah pengorbanan kita karena Allah… dan ingat… bukan hanya kita saja yang telah bekerja begitu keras… namun banyak mereka-mereka yang kerjanya jauh lebih berat dari kita… namun memperoleh rejeki yang sedikit dari Allah…”
“Itu sudah bagian mereka, pak… dan ini bagian kita.. rejeki kita halal, pak.. kenapa harus kita buang untuk orang lain?
‘Bukan di buang bu… tapi ingat yang tadi… untuk ‘membangun istana di surga’….”
“Pak… pak… cara berpikir bapak sudah tidak maksuk akal, kita sudah berusaha membangun istana di surga dengan sedekah-sedekah yang sudah kita keluarkan sebagai mana mestinya..”
“Bu… kita ini orang-orang yang tak tahu diri… di saat banyak orang sedang kesulitan biaya hidup sehari-hari… kita malah membuang-buang uang hanya untuk menuruti kehendak setan… kita tertawa dan bersenang-senang dengan kemewahan-kemewahan yang melampaui batas, sedang  hamba Allah yang lain sedang berurai air mata.. itulah memang rencana setan.. untuk menjerumuskan umat manusia.. yang berlimpahan harta di buat lupa diri, agar tidak peduli dengan penderitaan orang-orang fakir dan miskin,  dan yang miskin agar tetap menderita, sehingga ketika mereka menemukan jalan buntu… maka larinya sangat rentan dengan kejahatan…setan ingin menjerumusan semuanya, baik yang berlimpahan harta maupun yang dalam kesulitan. Kalau kita tidak mau melakukan perintah Tuhan dengan adil, maka mudahlah bagi setan untuk mengajak umat manusia menjadi teman-temannya. kita di anugerahi Tuhan kelebihan harta, ini adalah kesempatan kita untuk ikut memerangi rencana jahat setan pada umat manusia, dengan menyelamatkan kita sendiri, juga orang lain yang dapat kita Bantu… Coba ibu bayangkan. Bagi kita-kita yang pegang uang… kalau lagi stress, suntuk… lari kita bisa bersenang-senang dengan uang kita… lha coba ibu bayangkan bagi mereka yang tidak pegang uang.. kalau pas lagi stress… lalu larinya kemana bu…”
“Kenapa kita harus bingung memikirkan orang-orang itu kalau stress larinya kemana? Rejeki kita ‘kan sudah di bagi sendiri-sendiri… mereka ya harus tahu bagaimana mengatasi masalah mereka sendiri… bukan kita malah yang jadi mikir’…”
“Bu aku pernah membaca sebuah kisah, ada orang miskin sedang berdo’a pada Allah agar diberikan kekayaan, mendengar do’a itu ada malaikat yang bertanya pada Allah, “ya Allah… kenapa Engkau tak kunjung mengabukan do’a si Fulan?”. Allah menjawab.. “Sudah.. aku sudah mengabulkannya. Rejeki si Fulan aku titipkan pada orang-orang kaya”… masya allah bu… baru aku sadar sekarang… jangan-jangan banyak rejeki orang miskin yang Allah sedang titipkan  pada kita… kemudian bukannya kita serahkan pada yang berhak… malah kita makan sendiri…bagaimana kelak pertanggng jawaban kita pada Allah, bu?”
“Pak… bapak ini bagaimana… kalau kita tidak mengeluarkan sedekah sama sekali… baru kita makan haknya orang-orang miskin… tapi toh kita juga telah bersedekah, pak. Bahkan ibu kalau sama teman-teman dijuluki ‘ibu dermawan’, soalnya ibu ini paling hobi nraktir teman-teman!”
“ya.. ibu benar.. ,  tapi kita juga harus bersedekah lebih tepat sasaran, yaitu orang-orang yang memang benar-benar membutuhkan pertolongan orang lain, tapi rejeki yang diberikan Allah pada kita sangat berlebihan..benar kita memang sudah mengeluarkan sedekah kepada yang berhak pula, akan tetapi walau kita telah mengeluarkan sedekah.. kita masih kelebihan, sehingga kita telah salah memanfaatkan rejeki itu hanya untuk mengumbar nafsu dan mengejar kemewahan semata..”
“Tapi, pak… ibu tidak setuju kalau bapak menjual mobil-mobil kita… itu usaha-usaha kita sendiri.. itu simpanan untuk kita wariskan pada anak-anak kita…mereka toh nanti juga akan butuh kalau sudah rumah tangga… tidak harus kesulitan lagi..”
“Kita telah membekali mereka ilmu, bu… dan itu lebih bermanfaat daripada membekali mereka harta… lagipula.. bersedekah di jalan Allah… sama halnya kita menabung di jalan Allah.. kalau kita berbuat kebaikan di jalan Allah.. Allah pasti akan mengembalikannya dengan jumlah berlipat… itu janji Allah.. dan aku yakin ketika kita mempermudah hidup seseorang, maka Allah juga pasti akan mempermudah hidup kita..”
“Pak… aku kuatir ide gila bapak ini justru akan merugikan anak-anak kita… kita nolong orang lain… kita habis-habisan.. anak kita kelak tidak kebagian harta kita… eh… malah orang lain yang menikmatinya… pak… pak… kita ini bekerja untuk anak-anak kita sendiri… kenapa harus kita berikan pada oaring lain ?”
“Masyaallah, bu… ibu ini mengaku beriman pada Allah, percaya pada Allah… nyatanya hanya sebatas percaya kalau Allah itu ada… tapi ibu masih sangsi dengan janji-janji Allah yang telah di firmankanNya. Seberapa besar sih kekayaan kita di banding kekayaaan Allah yang Maha luas ini ? kalau kita mengaku beriman… kita juga harus percaya bahwa tidak akan mungkin Allah menelantarkan hidup kita dan anak keturunan kita kalau uang yang kita punyai kita belanjakan bukan dalam bentuk kita tumpuk-tumpuk, tapi kita gunakan di jalan Allah…”
Perdebatan antara pak Joni yang merasa telah mendapat hidayah dari Allah dengan istrinya tidak menemui titik temu, karena pandangan keduanya berbeda… pak Joni ingin membelanjakan hartanya di jalan Allah, sedang bu Joni kuatir harta-harta yang telah susah payah mereka kumpulkan tidak dapat mereka nikmati, tapi malah hanya orang-orang miskin yang tidak ikut andil apa-apa dalam perolehan harta mereka yang nantinya malah menikmatinya. Penjelasan pak Joni tidak dapat diterima oleh bu Joni… entah karena saking sayangnya pada harta, atau karena takut dianggap melarat oleh rekan-rekannya atau… karena belum mendapat hidayah, tentang pentingnya berbagi dengan orang-orang yang sangat membutuhkan. Akhirnya pak Joni tidak lagi mengindahkan omelan dan kemarahan bu Joni tentang rencana pak Joni yang dianggapnya sangat tidak waras. Bu Joni hanya bisa menangis, ketika suaminya mulai menawarkan mobil-mobilnya , sedih… sakit hati… kesal… putus asa… begitulah yang dirasakan bu Joni… bahkan menyesal rasanya menikah dengan laki-laki itu. Padahal sebelumnya bu Joni sangat bangga dengan suaminya yang mau memanjakannya dengan kemewahan… bahkan hobi pak joni yang mengkoleksi mobil-mobil mewah telah menambah kepuasan dan kebanggaannya pada suaminya itu… pokoknya selama ini kloplah mereka berdua… sama-sama gila barang-barang mewah… tapi kini.. pak Joni… menurut bu Joni telah mulai kesambet setan… entah setan dari mana yang nyambet pak Joni… hingga laki-laki itu mulai menyakiti hatinya… begitulah… ketika pandangan antara suami-istri tidak sejalan… pertengkaran demi pertengkaran terjadi dalam rumah tangga mereka.
“Pak… tolong bapak sadar dengan ide gila ini… hentikan pak… sadar…”
“Justru yang seharusnya sadar itu ibu… bukannya aku.. setelah mobil-mobil kita terjual.. aku minta ibu mulai mengumpulkan perhiasan-perhiasan ibu yang jarang di pakai.. sisakan saja seperlunya.. ..”
“Apa pak… bapak juga ngincar perhiasan-perhiasanku ? Pak.. bapak sudah keterlaluan… melampaaui batas.. itu hak aku sebagai istri… bapak tidak boleh menjualnya demi orang lain…”
“ya.. sudah.. kalau ibu tidak mengijinkan… hanya saja… bapak mulai sekarang melarang ibu untuk mengoleksi perhiasan lagi… sudah cukp banyak… tak perlu di tambah lagi… untuk apa beli lagi kalau hanya untuk kepuasan semata, agar di puji orang, agar selalu cocok dengan baju , tas, sepatu baru… sedang di sekitar kita masih banyak orang-orang yang sangat kesulitan hidupnya. Jangankan memikirkan soal perhiasan… bisa tetap bertahan hidup saja sudah sangat bersyukur… malu bu..malu kita pada Allah !”
“Kenapa harus malu… lha wong Allah sendiri yang telah memberinya pada kita… bukan salah kita… kita juga tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain… harta-harta kita sendiri… “
“Bu… sudahlah… saya tidak mau banyak berdebat tentang hal ini… saya kepala rumah tangga di sini… saya pemimpin di sini… dan kewajiban saya adalah mendidik istri dan anak agar mau diajak kepada jalan yang lurus dan benar…”
“Bapak bukannya mau mengajak ke jalan yang lurus… tapi akan membuat kehidupan kita jadi neraka, pak… alangkah susahnya kita harus menderita karena kebodohan kita membagi-bagi harta kita pada orang lain… sedang kita yang punya saja harus ‘melet-melet, pak!”
“melet-melet… ibu terlalu membesar-besarkan… kita justru sangat beruntung, bu… kita mendapat amanah limpahan harta dari Allah dan kita segera sadar untuk membagi kebahagiaan bersama dengan orang yang sangat membutuhkan, kita mendapat kesempatan banyak bersedekah… membangun istana di surga… betapa beruntungnya kita… kita dapat mengelola harta kita… bayangkan dengan orang-orang yang kesulitan mendapat rejeki…”
“saya tetap tidak setuju dan tidak akan mengikhlaskan harta-harta kita yang bapak bagi-bagikan pada orang-orang miskin itu…”
“Lalu mau ibu bagaimana? Apakah ibu lebih suka kalau bapak terus mengumbar nafsu dengan mengoleksi mobil atau barang-barang mewah lain ? apa ibu juga ingin akhirnya kalau sudah bosan koleksi mobil…bapak akhirnya juga akan koleksi istri..?”
“Hah!” bu Joni sangat terkejut mendengar pernyataan pak Joni yang terakhir ini… pak Joni…ia kenal sebagai laki-laki yang  memiliki jiwa penuh kasih dan sayang. Itu ia tunjukkan pada siapa saja, apalagi anak dan istrinya… tidak mungkin pak Joni tega menyakiti hatinya dengan mengucapkan kata-kata  ‘kiamat ‘ bagi para istri itu…
“Pak..pak…bapak sekarang malah semakin ingin membuat hati ibu jadi hancur… kenapa, pak.. kenapa bapak jadi berubah seperti ini?”
“Tidak bu, bapak hanya berubah menjadi orang yang ingin mendapat keridlaan dari Allah… bapak tetap tidak akan pernah tega membuat menderita hati ibu dan anak-anak… bapak akan tetap selalu di sisi kalian… hanya saja.. kalau ibu menginginkan bapak terus menjadi kolektor mobil.. bapak juga akan menambah koleksi bapak dengan koleksi istri… untuk apa.. toh uang kita berlebihan… mau di kemanakan lagi..”
Bu Joni menjerit keras mendengar ungkapan yang tidak pernah disangkanya akan keluar dari mulut pak Joni… suatu kalimat yang paling ditakuti oleh para istri,  ‘suami menikah lagi’. Tapi tidak… pak Joni hanya bermaksud menggertak istrinya saja. Pak Joni sudah kehabisan cara menyadarkan istrinya agar merelakan dirinya menjual barang-barang berlebih yang hanya jadi pajangan dan pameran itu untuk dimanfaatkan bagi orang-orang yang sangat membutuhkan. Pak Joni adalah seorang yang sangat penyayang… bagi seorang penyayang seperti pak Joni… menyakiti hati orang lain saja tidak tega, apalagi menyakiti hati istri dan anak. Pak Joni sangat faham… tidak ada wanita yang mau dimadu… tidak ada anak yang suka melihat bapakya jadi tukang kawin. Poligami tanpa alasan yang benar tentu tidak akan mendapat ridhlo dari Allah… karena hanya akan menimbulkan banyak sakit hati dan dendam… pak joni bukan tipe orang yang mementingkan kesenangan sendiri.. apalagi sekarang setelah mendapat hidayah…
“Bu… tolong di ikhlaskan… lihatlah banyak orang yang merasa kelebihan harta… sebagian besar larinya mencari istri kedua… ketiga.. bahkan kekempat…  bapak tidak akan mengambil kesempatan menolong seorang gadis misalnya dengan memanfaatkan kesempatan dengan mengawininya… bapak tidak akan meminta imbalan jasa dari bantuan bapak dengan mengawinin gadis-gadis atau janda-janda yang membutuhkan bantuan. Bapak murni membantu mereka untuk terus menyekolahkannya dan membiarkannya menjadi wanita mandiri serta kelak dapat memilih jodohnya sendiri.. atau para janda tetap dapat mandiri dan tetap mendapat kemerdekaan mereka…  bapak juga akan membantu mereka –mereka yang sudah berusaha keras mencari nafkah tapi.. tetap saja memiliki penghasilan yang tidak cukup untuk kebutuhan rumah tangganya… tapi… jika ibu kurang senang dengan cara yang begitu… apa lebih baik kalau bapak menolong gadis-gadis miskin dan janda-janda yang ditinggal suami itu dengan cara mengawini mereka saja ?” Masyaallah… bu Joni sama sekali tidak mengira akan mendapat ujian seberat ini… selama ini hidupnya sangat bahagia dengan suami yang tidak neko-neko dan bahkan mamanjakannya dengan aneka harta mewah… dan memiliki hoby yang sama dalam mengkoleksi harta… kenapa sekarang tiba-tiba berubah menjadi suami yang mulai ‘kurang sehat akalnya’? rasanya tidak kuasa bu Joni menanggung ujian yang tiba-tiba datang tak tersangka-sangka ini… apalagi kini… pak Joni yang amat di cintainya sebagai seorang suami telah melontarkan kata-kata paling menyakitkan yang tidak pernah ingin di dengar oleh istri manapun yang ‘masih normal’. Kedua pilihan itu tidak ada yang enak baginya… tapi daripada ia kehilangan harta sekaligus sebagian kasih sayang, perhatian dan kehadiran sang suami di rumah lebih baik ia kehilangan sebagian hartya saja.. dan pak Joni… tetap menjadi suami sekaligus sahabat sejati yang akan selalu pulang menemaninya berbagi di rumah tiap hari…..
Dengan sangat terpaksa akhirnya bu Joni membiarkan suaminya menjual semua koleksi mobilnya… hanya tersisa satu mobil saja yang memang masih dibutuhkan untuk dipakai... bukan sekedar di koleksi.. sekedar untuk kepuasan serta kemewahan…
Bu Joni hanya bisa menangis dengan kejadian itu… bu Joni merasa hidupnya mulai semakin menderita hanya karena ide ‘gila’ pak Joni yang malah di sebutnya sebagai ‘hidayah’.
“Pak… lihatlah… demi orang lain, kita sekeluarga jadi menderita… aku sekarang tidak bisa pergi seenaknya pakai mobil… karena mobil cuma satu.. kadang-kaang aku harus rebutan dengan anak-anak, dengan bapak…”
“Rebutan bagaimana, bu.. kalau…bapak sedang ingin pakai.. itu ‘kan karena bapak sedang sangat perlu bawa mobil… anak-anak juga begitu…”
“tapi ibu jadi tidak nyaman, pak… ibu jadi harus nunggu… gantian… tidak seperti bisanya yang tinggal suruh sopir…”
“Allah tidak menyukai orang manja… Allah lebih mnyukai orang yang mau bekerja keras dan berpayah-payah… mengapa hanya masalah menggunakan mobill saja ibu jadi repot.. kenapa ibu tidak gunakan jasa tukang becak , atau angkutan umum… atau naik sepeda…”
“Apa… ibu harus naik angkutan… becak… itu lambat sekali pak… lagipula naik angkutan… puih… panas… nunggunya lama… berdesakan… pak… pak… tolong ,mikir… yang masuk akal… ibu ‘kan tidak pernah naik angkutan umum…. Kalau naik sepeda… bapak tahu sendiri, repot pak.. jalanan macet, panas… pak… pak… tega sekali bapak sama istri….”
“Bu… ibu tidak ada istimewanya di mata Allah.. tidak tidak pernah membedakan antara satu orang dengan yang lain… kecuali karena amalnya… kenapa ibu seakan merasa manjadi orang yang begitu istimewa dan begitu lebih daripada orang lain ? ibu tahu… dengan naik becak atau kendaraan umum, berarti kita telah berbagi rejeki dengan orang lain yang sedang mencari nafkah dengan cara mengantar orang-orang ke tempat tujuan… kalau kita pada naik kendaraan pribadi… rejeki mereka darimana ? …  “
“Pak.. kenapa tidak kita beli mobil satu lagi ? hidup ibu jadi sangat sulit karena tidak ada mobil khusus bagi ibu..  ?”
“Bu… bu… tolong buang jauh…jauh sifat manja ibu… dengan mengurangi jumlah mobil di jalanan , kita juga ikut membantu mengurangi kemacetan dan polusi udara . Banyak orang bisa hidup bahagia dan nyaman tanpa harus punya mobil… mengapa sudah ada mobil …walau Cuma satu..tapi ibu merasa begitu menderita…. Dimana rasa syukur kita pada Allah bu… malu bu… kenapa orang lain yang hanya punya sepeda pancal dapat menyelesakan masalah transportasinya dengan mudah.. sedang kita yang sepeda pancal punya, sepeda motor punya… bahkan mobil juga punya… tapi malah..merasa kesulitan dan tidak mampu menyelesaikan hanya masalah sepele seperti itu ?”
“Bukan tidak mampu menyelesaikan pak… tapi ibu tidak mau berpayah..payah… hanya demi orang lain yang tidak ada hubungan keluarga dan tidak memberikan jasa apa-apa pada kita..”
“Astagfirullah….”
Semenjak kecil bu Joni memang sudah terbiasa dengan kemewahan. Orang  tuanya adaklah seorang konglomerat yang sangat suka bergaya hidup mewah… kemudian menikahpun juga dengan seorang pengusaha kaya , sukses dan terkenal di wilayahnya… maklum kalau dia merasa sangat melarat dengan berkurangnya harta mereka walau sebenarnya mereka tetap dalam kategori berharta…
“Bu Joni… saya dengar pak Joni menjual semua koleksi mobilnya… ma’af bu.. ada masalah apa ?” Tanya bu Fita yang termasuk sahabat dekat bu Joni…
“Pak Joni mulai kehilangan kewarasannya bu.. aku juga tidak tahu.. siapa sebenarnya yang telah menghipnotis dia… “ Bu Joni mulai menangis sesenggukan menuturkan kisah duka keluarganya…
“Di hipnotis ? Apa ada yang sudah menipunya dengan cara menghipnotis begitu ,bu… eh… sekarang hati-hati lho… banyak orang mulai melakukan kejahatan dengan cara hipnotis… trus… bu…”
“Bukan bu… bukan ditipu dengan cara di hipnotis… pak Joni tiba-tiba punya ide gila, yang sama sekali tidak masuk akal… suatu hari dia buru-buru pulang dari pengajian bercerita pada saya kalau dia sedang mendapat ‘hidayah’. Mendengar dia mendapat hidayah dan datang dengan muka berseri-seri… waktu itu ibu sangat bahagia… eh… setelah cerita… ternyata hidayah itu bukan sesuatu yang akan bermanfaat dan membahagiakan kehidupan anak-istrinya… tapi sebuah ide ,mlarat, yang sangat konyol…”
“Ide mlarat? Apa maksud ibu..” Bu Fita masih penasaran dengan cerita terputus bu Joni…
“Kata pak Joni… ia dapat hidayah sepulang dari pengajian dengan punya ide mau menjual semua koleksi mobil, perhiasanku.., dan semua barang mewah yang selama ini tidak begitu dibutuhan, tapi hanya sekedar koleksi saja…”
“Hah… hidayah kok seperti itu… lalu maksudnya apa, bu…?” Tanya bu Fita yang sama-sama awam tentang hukum agama itu pada bu Joni...
“ya… katanya uang hasil penjualan itu akan diberikan pada orang-orang miskin… untuk membangunkan mereka rumah.. membuatkan tempat usaha… menyekolahkan anaknya… ah… pokonya diberikan pada orang lain… “
:”lalu.. mobilnya sekarang tinggal berapa ?”
“satu… ya satu itu saja yang dipakai banyak orang… “
“Hah… gila… “
“Nah… coba bayangkan siapa yang gila… aku.. apa dia ?”
“Puih…puih… aku tidak bisa membayangkan kalau punya suami seperti itu….” Bu Fita yang punya karakter sama saja dengan bu Joni yang gila harta bukannya mampu menenangkan hatinya tapi malah ikut-ikutan memperparah luka hati bu Joni.
Bukan hanya bu Fita yang memberi komentar seakan pak Joni adalah laki-laki bodoh dan bu Joni adalah wanita sangat malang yang perlu dikasihani. Tetapi hampir semua rekan dan bahkan keluarga dari pihak bu Joni sangat menyayangkan keputusan aneh pak Joni. Bu Joni yang salah memilih teman bergaul semakin dalam kondisi yang mengenaskan. Yang di curhati bu Joni bukannya orang-orang yang memiliki kepedulian pada sesama, akan tetapi justru orang-orang yang mencintai harta dunia melebihi cintanya pada yang lain. Ada sih sebenarnya dari keluarga bu Joni yang tidak ikut menyalahkan pandangan pak Joni… tapi pendapat minoritas itu sama sekali tidak di gubris oleh bu Joni, tentu saja ia lebih mempercayai dan menggunakan pandangan lebih banyak suara dari teman-teman dan sebagian keluarganya… bu Joni semakin sedih hatinya ketika diantara teman-temannya saling bercerita dengan sangat bangga ketika mereka membeli barang-barang mewah terbaru dan terindah… dengan amat bangganya mereka adu sifat ‘riya’ saling mencoba menjadi yang terunggul , terbaik dan terkaya dan paling dikagumi….
Untuk menyadarkan istrinya, pak Joni selalu berusaha mengajak istrinya untuk ikut aktif menghadiri pengajian seperti dirinya… tapi bu Joni menolak karena baginya… justru tempat pengajian adalah tempat paling menakutan yang telah melencengan otak suaminya sehingga dirinya menjadi sangat menderita … yah… itu semua karena ide aneh para ulama… bu Joni trauma sekali melihat ulama… karena itu bu Joni tidak mau menghadiri pengajian… pak Joni mencoba untuk membelikan buku-buku keagamaan yang berkenaan dengan sedekah serta zakat dan bagaimana mengelola harta… tapi dasar bu Joni sudah punya pandangan berbeda yang di dukung oleh teman-teman dan sebagian keluarganya… buku-buku yang di belikan pak Joni bukannya membuat keingintahuan yang besar muncul dalam dirinya untuk mengetahui petunjuk jalan agama yang benar… tapi buku-buku itu telah membuat bu Joni sebal luar biasa… jangankan untuk membacanya… melihat atau menyentuh saja bu Joni seperti orang sedang kerasukan setan… ia suka histeriss….
Pak Joni mencoba mencari ahli kejiwaan yang memiliki ilmu agama yang baik…namun… sekali lagi hati bu Joni masih tertutup rapat untuk menerima masukan yang bersifat ‘sedekah’.
Suatu hari… pak Joni kembali pulang dengan wajah berseri-seri… Nampak tidak seperti biasanya… bu joni tak bisa menahan diri untuk bertanya” ada apa, pak… apa yang membuat hati bapak kelihatan begitu gembira ?”
“Alhamdulillah, bu… “ pak Joni Nampak agak berat untuk melanjutkan ceritanya karena ia sangat paham cerita itu nanti tentu akan sangat melukai hati istrinya…
“Apanya yang alhamdulillah??” Bu joni masih penasaran bertanya, walau sebenarnya ia sudah bisa menebak apa yang membuat hati suaminya begitu gembira, namun ternyata hal itu dorongan rasa ingin tahu yang besar telah memaksa lidahnya untuk tetap bertanya…
“Bapak baru saja menyelesaikan program pembanguan seratus rumah layak huni, menyalurkan modal usaha bagi seratus orang,  beasiswa untuk seratus anak-anak kurang mampu, seratus… “
“Sudah… sudah… pak… jangan diteruskan… bapak mengentaskan kemiskinan untuk seratus… seratus… dan entah berapa ratus lagi untuk membuat kita sendiri menjadi melarat…!” Bu Joni memekik tak tahan mendengar harta kekayaan mereka dihambur-hamburkan dan dinikmati banyak orang kumuh.
“Bu… kenapa ibu tega mengatakan kita hidup melarat ? Bukankah kita masih punya mobil… kendaraan bermotor.. bisa makan enak…. “
“Lihat, pak.. dulu ibu bisa membeli pakaian dan perhiasan mewah setiap kali ibu inginkan, ibu dapat membeli makanan dan makan di restoran manapun yang ibu inginkan… anak-anak sekolah pakai mobil, kemana-mana pakai mobil… sekarang semuanya telah terpuruk… ibu harus menahan diri untuk membeli sesuatu yang ibu inginkan… dan anak-anak harus kepanasan naik angkutan pergi ke sekolah, si Dodi malah sekarang harus naik sepeda ke sekolah…”
“Tapi mereka tidak keberatan, bu… dan mereka sangat senang melakukannya. Bapak telah memberi mereka pengertian… bahwa Allah lebih menyukai orang-orang yang mau bekerja keras… bukannya manja mau enak saja… ini namanya mbelajari anak untuk ‘tirakat’ bu… dan mereka nampak senang karena mereka dapat ikut membantu orang lain… walau mereka harus berpayah payah… tapi mereka senang ada orang lain yang keluar dari kesulitan dan penderitaannya karena kerelaan mereka untuk tidak bermanja-manjaan dengan kemewahan. Bapak sangat bangga dengan Dodi dan Tina… mereka bukan anak-anak manja… mereka mau berbagi dengan sesama… apalagi mereka sering bapak ajak untuk menengok mereka-mereka yang kurang beruntung… dan mereka menjadi malu selama ini telah hidup bermewah-mewahan, sedangkan di sekeliling mereka masih banyak orang-orang yang untuk makan sehari-hari saja kesulitan… oleh karena itu mereka begitu ikhlas mau membuang kemanjaan mereka karena limpahan harta orang tuanya… karena bagaimanapun… walau mereka harus naik sepeda… naik angkutan… tapi hidup mereka masih serba kecukupan…”
Tampaknya kalau Tuhan belummembuka pintu hidayah bagi seseorang, akan sulitlah kita menyadarkannya. Demikian pula halnya dengan bu Joni, segala masukan pak Joni… bahkan dari anak-anaknya sendiri sama sekali tidak merubah cara pandangnya… ada kalanya suatu saat ia sedikit agak ngerti. Tapi dengan berjalannya waktu terutama ketika harus bertemu dan berkumpul dengan teman-teman glamournya… hati bu Joni akan kembali pada prinsip kemewahan yang tidak dapat di ganggu gugat sepeti biasanya…
Akhirnya tahun.. terus berganti… pak Joni yang terus menikmati sedekahnya pada orang lain.. bu Joni masih terus pada kesedihan dan penderitaannya memikirkan harta-hartanya yang harus ,terus di kuras, untuk orang lain…
Semakin hari… wajah pak Joni semakin muda berseri… bagaimana tidak… pak Joni mulai dapat merasakan hikmahnya memiliki harta benda hanya yang di butuhkan saja… selama ia punya hobi koleksi mobil… sebenarnya banyak yang ia harus pusingkan tanpa sadari… mulai biaya perawatan.. ganti onderdil.. dan lain sebagainya… belum lagi godaan kalau ada mobil keluaran terbaru… wah… wah… pasti semalaman ia mulai tidak bisa tidur untuk ingin segera membeli mobil itu.. tapi begitu terbeli… ada keluaran model baru… pusing ia inginkan mobil model terbaru itu… ah… Alhamdulilalh… kini hatinya lebih tenang… tidak lagidi kejar kerakusan dan iming-iming duniawi yang serba semu.. malah banyak orang ikut bahagia karena ‘hartanya’… Memang sebenarnya untuk benar-benar mampu meghilangkan kerakusan yang ada dalam hatinya, sempat terkadang ketika ada keluaran mobil terbaru , setan berusaha membujuknya untuk kembali tertarik menghambur-hamburkan uangnya demi hanya sekedar memuaskan nafsu keduniawiannya. Namun karena tekad yang kuat untuk meraih ‘istana di syurga’, akhirnya pak Joni mampu mengalahkan hasutan-hasutan setan yang selalu berusaha mencari kelemahan umat manusia untuk di jerumuskan menjadi budak-budak setianya..
Andai semua orang kelebihan harta mau berbuat seperti pak Joni… alangkah indahnya kehidupan ini.. satu orang mengentaskan satu atau dua kemiskinan… bahkan lebih… tentu tidak banyak orang kelaparan di negeri surga yang subur makmur ini,apalagi jika didukung pemerintahan yang lebih adil lagi….
Lain halnya dengan bu Joni, semakin hari wajahnya semakin kusut, pucat dan tak bergairah, tubuhnya menyusut beberapa kilo. Pak Joni tidak letih mencoba memberi pengertian, bahkan mencoba mendatangkan seorang anak kecil yang kurus kering kurang gizi untuk memancing rasa iba bu Joni…
“Bu anak ini ingin bercerita pada ibu… “kata pak Joni waktu itu…
“Bu.. saya mau berterima kasih pada pak Joni dan ibu.. orang tua saya adalah seorang nelayan kecil yang kadang dapat ikan untuk di jual.. kadang tidak dapat sama sekali.. oleh karenanya.. kadang kami sekeluarga dapat makan, kadang kami harus menahan rasa lapar… namun semenjak pak Joni menolong kami… kami bisa makan lebih teratur… pak Joni memberi ibu saya modal untuk usaha sambilan, membantu bapak, saya sudah sekolah di SMP.. dulu waktu SD saya masih bisa sekolah jalan kaki, tapi SMP agak jauh… saya hampir tidak dapat sekolah karena tidak ada kendaraannya. Kadang bisa masuk sekolah, kadang harus bolos karena lelah. Bapak mau membelikan saya sepeda bekas… tapi untuk membeli sepeda bekas saja bapak tidak mampu… alhamdulilalah pak Joni mengetahui kesulitan kami… dan pak joni mau membelikan sepeda baru untuk saya… kami sekeluarga seperti sedang berada di syurga ketika sepeda baru itu datang ke rumah kami, karena mimpipun kami tidak untuk dapat mempunyai sepeda baru, karena membeli sepeda bekas saja sesuatu yang cukup sulit bagi keluarga kami…”
“Dan Totok ini anak yang sangat rajin dan pintar bu… jadi sangat sayang kalau dia berhenti sekolah…”
Sebenarnya mendengar penuturan itu bu Joni sudah dapat berpikir… alangkah tidak tahu dirinya ia dan pak Joni waktu itu mengumbar kemewahan bahkan membeli-beli mobil-mobil mewah.. sedang di seberang sana ada keluarga-keluarga yang jangankan membeli mobil mewah satu atau dua atau bahkan lebih.. tapi membeli satu sepeda bekas saja tidak mampu… padahal sepeda bekas itu benar-benar di butuhan.. bukan untuk mengumbar kerakusan seperti yang ia lakukan dengan suaminya selama ini. bu Joni sebenarnya agak tersentuh juga dengan cerita anak itu… namun kemudian ia kembali ingat teman-temannya yang sekarang muali mengalahkan kemewahannya… hatinya kembali berontak tak rela… harta-hartanya hanya digunakan untuk mensejahterakan orang lain… bisa beli sepeda kek… tidak kek.. mau sekolah apa enggak… itu ‘kan tanggung jawab kalian sendiri-sendiri… kenapa harus aku yang di korbankan ?
Keadaan bu Joni yang tidak bisa berpikir sehat untuk mengikhlaskan segala sesuatunya kepada Allah, telah membuat bu Joni akhirnya digerogoti oleh bermacam-macam penyakit. Bu Joni mulai terkena penyakit darah tinggi… kemudia di susul penyakit gula… yang mulai menyedot tubuhnya yang dulu sintal menjadi kurus… kurus dan semakin kering…
Dengan adanya penyakit yang menyiksanya… bukan kemudian membuat bu Joni sadar… bu Joni malah meyalahkan pak Joni yang menjadi penyebab dirinya menjadi penyakitan…
“Bu… ibu kenapa menyiksa diri begini… lihatlah badan ibu semakin lama semakin kurus… penyakit-penyakit yang ibu derita ini akibat dari terlalu banyak mikir… padahal.. ibu sudah bapak bebaskan untuk tidak ikut ngurusi keperluan-keperluan rumah tangga, semua sudah ada yang ngurus… kebersihan rumah.. taman..kebun…dan lain-lain sudah ada yang menyelesaikan… kenapa ibu malah menyiksa diri begini bu… “
“Bapak justru yang tidak juga sadar kalau ibu jadi begini gara-gara bapak… bapak memang tidak menyakiti ibu dengan melakukan KDRT , tapi bapak telah menyakiti batin ibu karena bapak keras kepala tidak memperhatikan pendapat ibu… ibu tidak akan bisa dan tidak akan pernah mengikhlasan uang dan harta kita yang bapak bagi-bagikan untuk orang lain itu. Selama ini ibu hanya terpaksa dan memendam kekecewaan serta kesedihan sendiri”
“Astgfirullah bu… bu…. Kenapa Allah belum juga membukakan pintu hidayah bagi ibu… ya Allah… tolonglah istriku… “ pak Joni mengeluh pedih menyadari istrinya belum juga mendapat hiayah dari Allah… ia juga merasa belum berhasil mendidik istrinya untuk menjadi wanita beriman yang penuh keikhlasan.. “Bersyukurlah bu… atas segala pertolongan dan nikmat yang telah Allah berikan pada kita… coba kita hitung… kita mempunyai keturuan yang sehat-sehat dan pintar serta taat… lihatlah betapa sedihnya mereka-mereka yang mendamba keturunan tapi belum juga di karunia… kita bisa hidup merdeka… aman dan selamat sampai sekarang… lihatlah merea yang hidup tertindas, terpenjara… tertimpa musibah… kita bisa berpuasa.. tetapi kita juga dapat berbuka dengan makanan dan minuman yang lezat-lezat serta segar… lihatlah mereka yang kelaparan… untuk menghilangkan lapar atau berbuka… mereka makan tetap seadanya… kita dapat membeli pakaian bagus, perhiasan bagus walau kita batasi jumahnya, bagaimana dengan orang-orang yang kesulitan ekonomi… memakai pakaian bekas orang lain saja mereka sudah sangat bersyukur…. Dan masih banyak keberuntungan yang Allah telah berikan pada kita… yang kita tak akan mampu menghitungnya… kenapa kita menafikkan ini, hanya karena kelebihan harta kita,  kita gunakan untuk membantu kesulitan orang-orang  di sekitar kita?”
Tampaknya belum saatnya bagi bu Joni untuk bisa memahami semua itu… pak Joni yang merasa sedih dan iba dengan istrinya,  kemudian rajin shalat hajat untuk mendo’akan istrinya agar segera sadar dan mendapat petunjuk dari Allah kepada jalan lurus dan benar… apalagi kemudian penyakit bu Joni jadi semakin parah karena bui Joni belum bisa berhati ikhlas…. Suatu hari…bu Joni malah terkena stroke… tangan dan kakinya separuh sebelah kanan tidak dapat di gerakkan…
Bu Joni yang kaya, cantik, seksi dan suka bertandang ke tempat-tempat mewah kini hanya bisa tidur di kamarnya … dunianya yang indah menjadi sempit…. Tawanya yang ceria jadi hilang… berganti dengan air liur yang sulit ia kendalikan keluar dari mulutnya yang dulu sering ia gunakan untuk tertawa-tawa dan sungging –sungging untuk menunjukkan betapa cantik dan tingginya kehormatannya sebagai seorang yang elok nan kaya raya… Bu Joni… bu Joni telah menjadi wanita lain… dunianya yang indah gemerlap telah menjadi dunia sebatas kamar tidur… kadang memang ia ingin jalan-jalan keluar dengan kursi rodanya… tapi badanya yang terasa sakit semua tidak membuatnya nyaman untuk melihat-lihat dunia di luar… keindahan dan kemewahan tidak lagi menarik hatinya… yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana lepas dari rasa sakit di sekujur tubuhnya yang seakan tidak gentar oleh dokter, tabib , dukun, obat, jamu… apapun… entah… entah apa yang bisa menghilangkan rasa sakit tubuhnya… atau entah… entah siapa…. Bu Joni seperti tidak mendapat petunjuk kemana dan kepada siapa ia harus melepas diri dari rasa sakit yang tiap saat tiba-tiba muncul menggigit dan merejam-rejam daging hingga terasa ke tulangnya… mobil mulus berteknologi tinggi, perhiasan mewah, aneka barang mahal, tempat-tempat rekreasi dan shopping yang indah di manca negara, rekan-rekan sesama penikmat kemewahan… semua tidak ada yang sanggup menghilangkan penyakit dan rasa sakitnya. Kalau sudah demikian … biasanya bu Joni menjerit-jerit tanpa peduli orang yang gerah dan miris mendengar raungannya… Siti… yang merawatnya mula-mula memang takut, kewalahan dan tak tahu apa yang mesti ia kerjakan… tapi lama-kelamaan Siti jadi terbiasa… kadang ia cuek saja dan dibiarkannya wanita yang sedang menderita sakit itu… mengurangi rasa sakitnya dengan menjerit sepuasnya. Bukan hanya sakit fisik yang di alami oleh bu Joni… tapi ia juga amat tersiksa karena ia harus menahan untuk bisa menikmati makanan lezat… karena banyak pantangan makanan yang I harus dijalani… bandel melanggar… penyakitnya kumat makin menjadi… itulah bu Joni… wanita cantik seksi dan menyukai hal-hal mewah dan penuh kenikmatan dunia… kini dipaksa hanya memikiran diri sendiri dan rasa sakitnya… siapa yang memaksa? Pak Joni? Tuhan? Tidak ! sebenarnya dirinyalah yang memaksanya… hanya saja dia bukannya insaf menyadari bahwa penyebab semua itu adalah dirinya sendiri… tapi ia malah menyalahkan suami… Tuhan…masyaallah….
Suatu hari… Nia , anak pertama bu Joni  sedang mencoba memijit-mijit lembut tubuh bu Joni yang di keluhkan sangat sakit…… tiba-tiba bu Joni kembali berkeluh kesah yang membuat hati Nia jadi kesal juga…
“Nia… ini akibat ulah bapakmu… ulah bapakmu… kalau saja ia tidak menyakiti ibu dengan menguras harta kita untuk di bagikan pada orang-orang miskin… ibu tidak akan tersiksa penyakit seperti ni.. ibu banyak bersedih… akhirnya ibu sakit seperti ini, Nia…”
“Astagfirullah… buk…kenapa ibuk masih saja mengungkit soal itu bu…bukankah seharusnya ibuk bersyukur punya suami seperti bapak ? bapak adalah seorang pemimpin keluarga yang ingin menyelamatkan keluarganya dunia –akherat… kenapa ibu masih menyalahkan bapak sebagai penyebab penderitaan dan penyakit ibuk…”
“Sadar Nia…yang membuat kamu harus pulang pergi sekolah naik angkot… ya bapakmu… demi orang lain kamu harus bersusah payah… nunggu angkot lama… pergi pagi-pagi sekali.. kesulitan… kepanasan…”
“Tidak apa-apa bu… Nia ikhlas kok… ini semua karena Allah, Allah tidak menyukai orang yang manja… Nia justru sangat bersyukur dengan tindakan bapak… keluarga kita bisa ikut membuat orang lain bahagia… Nia sangat percaya kalau janji Allah benar… bahwa Allah akan membalas setiap pebuatan manusia walau hanya sebesar biji zarah…”
“Tapi Nia…kita jadi bayak ‘ngempet’… tidak seperti dulu… kita bisa beli apapun… makan apapun… melakukan apapun tanpa harus banyak mikir… sekarang… kita juga jadi malu sama teman-teman kita… mereka bisa ngumpulkan barang mewah… sedang kita tidak… malah habis…”
“Masyaallah buk… tolong sadarlah… lihatlah ibuk sekarang terbaring sakit… bukankah hanya kesehatan saat ini yang ibuk butuhkan… bisakah ibuk menikmati harta.. rumah mewah… mobil yang berderet… perhiasan-perhiasan mewah… kalau ibu dalam keadaan sakit begini?’
“Ya justru seharusnya ibuk bisa menikmati itu semua kalau tidak di habiskan bapakmu… ibu juga tidak akan sakit…”
“Buk… ma’af… mungkin justru sakit ibuk ini adalah peringatan dari Allah… dengan keadaan tubuh yang sakit dan tidak bisa kemana-mana ini… apakah ibuk akan nyaman naik mobil berganti-ganti… akan bahagia dengan memakai perhiasan mewah model terbaru… akan bahagia menyaksikan pujian orang tentang berlimpahnya harta ibuk ?... tidak ‘kan…. Bukankah yang ibuk butuhkan adalah terlepas dari rasa sakit…  kalau saja ada tawaran apakah ibuk ingin hadiah ratusan mobil dan emas permata… atau ibuk di lepaskan dari penyakit ibuk dan dapat sehat seperti semula… tanpa rasa sakit… dapat pergi kemana saja… makan tidak harus banyak diatur-atur… ibuk milih mana? Tetap sakit dengan berlimpahan harta atau sehat dan selamat ?” Untuk sesaat bu Joni tidak menjawab…tapi kemudian…
“Kalau harta ibu tidak dihabiskan…ibu tidak akan sakit Nia!”
“Lho… bu… yang menentukan sakit atau sehat tu Allah lho… bukan kita… kalau kita bisa ya enak… bisa milih semau kita… tapi… hidup kita ‘kan ada yang ngatur… sakit itu juga tidak pandang kaya miskin… semuanya keputusan ilahi… “
Entah apa yang terjadi… rupanya perdebatan hari itu dengan Nia… tiba… tiba membuat hati bu Joni perlahan… lahan mulai terbuka… andaikan ia harus memilih saat ini apakah harus mendapatkan tumpukan harta atau memperoleh kesehatan tubuhnya… pastilah ia akan memilih ‘sehat’ , walau harus hidup sederhana… buat apa berlimpahan harta tapi tak sanggup menikmatinya… sedangkan tubuh yang sehat… terlepas dari penyakit… akan membuat hidupnya lebih bahagia … bebas… tak terpenjara…. “Ya Allah…. Hamba menyesal… hamba sadar Engkau telah menghukum dan memperingatkan kebodohan dan kesalahan hamba… ya Allah… hamba ikhlas menerima hukumanMu ini… asalkan Engkau mengampuni dosa-dosa hamba padaMu dan pada suami hamba… hamba telah begitu bodoh… hamba tidak tahu cara mensyukuri nikmatMU… hamba begitu bodoh mengira harta dunia… adalah segala-galanya ang dapat membuat kebahaagiaan hidupmanusia…  Allah ampunilah aku….” . Mungkin begitu mudahnya jika Allah telah membuka pintu hidayah bagi seseorang untuk segera menemukan petunjuk jalan yang lurus…
Malam itu bu Joni terus menerus beristigfar pada Alah… ia benar-enar sadar dan sangat menyesali kebodohan dan kesalahannya selama ini….
“Pak… tolong…ma’afkan kesalahan ibu yang telah menumpuk begitu banyak dan begitu lama kepada bapak…” pagi itu ketika pak Joni yang justru kelihatan lebih sehat , lebih muda dan lebih segar daripada usianya… menghampiri bu Joni di tempat tidurnya… tiba-tiba bu Joni menangis sesenggukan memegang erat dan menciumi tangannya….
“Ada apa ibu tiba-tiba meminta ma’af pada bapak?” Pak Joni belum mengerti apa yang membuat istrinya meminta ma’af padanya….
“Pak… selama ini… ibu telah membuat kesalahan dengan terus menerus menyalahkan bapak, karena menyedekahkan harta lebih  kita pada orang-orang miskin… ibu kini sadar… tidak ada gunanya limpahan harta tanpa kesehatan… selama ini ibu telah melupakan karunia Tuhan yang berupa kesehatan.. keselamatan… dan masih banyak lagi… ibu sadar ini hukuman dari Allah untuk ibu… yang mencintai harta melebihi cinta ibu pada yang lain , termasuk juga Tuhan… karena ibu… tidak ikhlas bapak menggunakan harta kita di jalanNya…” sesenggukan bu Joni menangis sepuas-puasnya….
“Alhamdulillah…” pak Joni kaget bercampur haru dan gembira amat sangat menyadari istrinya akhirnya mendapat hidayah dari Allah… untuk menyadari kesalahannya selama ini… Air mata pak Joni juga tidak lagi dapat ia bendung lagi… dirangkul dan di ciumnya istrinya penuh rasa syukur dan bahagia… kini tidak ada lagi ganjalan baginya untuk melaksanakan perintah Allah… berjihad dengan harta bendanya…..
Sesungguhnya Allah amat sayang kepada hamba-hambaNya… do’a-do’a pak Joni terkabul…bahkan Allah telah menjawab shalat hajad yang dilakukan pak Joni utnuk menyadarkan istrinya…..
Hari itu, pak Joni sengaja mengajak semua anak dan astrinya untuk mengunjungi orang-orang-orang telah mereka tolong… senyum bahagia penuh keramahan dan rasa syukur dari mereka sangat membuat dingin hati Bu Joni… tak lupa bu Joni mengucap ma’af pada mereka… kerena ketidak ikhlasan hatinya selama ini dan su’udzonnya pada orang-orang yang dianggapnya  merongrong kekayaanya… hari itu hatinya… sangat bahagia… melihat orang lain bisa merasakan kebahagiaan karena kerelaan suaminya menyisihkan kelebihan hartanya untuk mereka….
Ya Allah… semoga Engkau buka pintu hamba-hambaMu yang lain untuk peduli pada sesama…

                                                            ***